Pasar air minum dalam kemasan di Indonesia tumbuh pesat dan menjadi salah satu
sektor paling kompetitif dalam industry FMCG. Dalam pertumbuhan kategori ini,
perusahaan PT. Sinar Sosro Gunung Slamat menghadapi tekanan ganda, yaitu
penurunan pendapatan pada sektor produk teh siap minum, sementara air mineral
Prim-A yang merupakan produk diversifikasi strategis perusahaan yang baru
menyumbang sebesar 12.97% dari total penjualan PT. Sinar Sosro Gunung Slamat
di Kota Bandung sebesar Rp. 42.7 milliar pada tahun 2025. Dari seluruh merek
AMDK yang ada saat ini, produk Prim-A hanya menempati peringkat ke-30 secara
nasional dalam distribusi produk air mineral dan jauh tertinggal dari pemimpin
pasar. Kondisi ini mendorong manajemen menetapkan target ambisius dengan
meningkatkan penjualan Prim-A menjadi dua kali lipat di Kota Bandung pada
tahun 2026.
Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi distribusi dan strategi
branding yang terintegrasi untuk meningkatkan penjualan air mineral Prim-A di
Kota Bandung. Secara spesifik, penelitian ini mengidentifikasi kesenjangan
distribusi secara actual, menilai kondisi brand equity, dan menyusun strategi
berbasis data yang mencakup tiga saluran distribusi, yaitu toko retail, food service,
dan grosir yang didukung dengan strategi branding yang terarah.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan triangulasi data dari tiga
sumber, wawancara semi-terstruktur dengan enam informan kunci, observasi
terstruktur di lapangan sebanyak 15 outlet toko retail di Kota Bandung, serta data
distribusi internal periode Januari-Desember 2025 yang mencakup 1.013 outlet
aktif. Analisis data mengintegrasikan pengukuran Numeric Distribution dan All
Commodity Value, kerangka Customer-Based Brand Equity Keller, analisis Paretor
berbasis tier outlet, serta analisis SWOT berbasis fakta lapangan.
Hasil penelitian mengungkapkan dua permasalahan structural utama. Pertama,
Numeric Distribution air mineral Prim-A di Kota Bandung hanya sebesar 3.91%,
hasil ini jauh dibawah standar industri dan menunjukkan bahwa masih banyak
potensi pasar di general trade yang belum terjangkau sama sekali. Analisis Pareto
lebih lanjut memperlihatkan konsentrasi pendapatan yang ekstrem pada segelintir
outlet berkinerja tinggi, sementara pada saluran grosir meskipun jumlah outlet
aktif kecil terbukti menjadi kontributor pendatapan yang besar. Kedua, asesmen
brand equity menggunakan kerangka CBBE mengidentifikasi gap pada seluruh
dimensi, dengan tingkat trial sebagai variable paling kritis. Konsumen yang pernah
mencoba air mineral Prim-A secara konsisten memberikan penilaian positif,
sementara konsumen yang belum mencoba otomatis percaya pada kompetitor yang
sudah top-of-mind. Keterkaitan merek Prim-A dengan Sosro juga terbukti belum
dikomunikasikan secara konsisten, padahal ekuitas merek Sosro berpotensi besar
memperlancar akuisisi outlet dan membangun kepercayaan konsumen.
Berdasarkan temuan tersebut, strategi terintegrasi dirumuskan dalam empat dase
pelaksanaan selama dua belas bulan. Strategi distribusi difokuskan pada perluasan
cakupan retail secara selektif berbasis klasifikasi tier, pengembangan saluran food
service melalui tambahan sumber daya manusia khusus, dan ekspansi saluran
grosir secara terstruktur. Strategi branding melengkapi distribusi melalui aktivasi
narasi keterkaitan Prim-A dan Sosro, aktivasi program sampling terarah, dan
penguatan branding di toko berbasis prioritas tier. Proyeksi pendapatan setelah
strategi integrasi dijalan pada bulan ke-2 mencapai 189.2% dibandingkan
pendapatan eksisting di tahun 2025 yang mendakati target manajemen sebesar dua
kali lipat dari penjualan. Penelitian ini menegaskan bahwa distribusi dan branding
bukan alat yang bekerja secara independent, melainkan saling memperkuat.
Distribusi yang luas membuka peluang konsumen mencoba produk Prim-A,
sementara branding yang efektif mengurangi hambatan akuisisi outlet baru. Secara
praktis, penelitian ini menghasilkan cetak biru strategi yang dapat dieksekusi dan
berbasis bukti, lengkap dengan sistem pemantauan sebagai mekanisme koreksi.
Secara teoretis, penelitian ini menunjukkan bahwa pengukuran distribusi berbasai
data internal perusahaan dapat menghasilkan wawasan strategis yang valid dalam
konteks pasar FMCG yang terfragmentasi.
Perpustakaan Digital ITB