digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perkembangan kawasan perkotaan di Daerah Khusus Jakarta menyebabkan peningkatan luas permukaan terbangun yang memicu kenaikan suhu permukaan serta peningkatan limpasan permukaan yang berpotensi menimbulkan intensitas urban heat island (UHI) dan banjir pluvial sehingga diperlukan pendekatan blue green infrastructure (BGI) yang mampu mengatasi kedua permasalahan secara terpadu. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas Tebet Eco Park sebagai blue-green infrastructure (BGI) terhadap mitigasi urban heat island, reduksi banjir pluvial, serta hubungan antara sebaran genangan banjir terhadap perubahan suhu permukaan. Penelitian dilakukan melalui analisis urban heat island menggunakan citra ECOSTRESS Land Surface Temperature (LST) yang divalidasi terhadap hasil pengukuran suhu lapangan. Dari citra tersebut dianalisis pengaruh karakteristik tutupan lahan terhadap suhu permukaan menggunakan regresi linear sederhana dan regresi linear berganda. Selanjutnya dilakukan analisis hidrologi dan hidraulika menggunakan perangkat lunak PCSWMM 1D-2D pada kondisi eksisting dan tiga skenario optimasi untuk mengevaluasi kemampuan Tebet Eco Park dalam mereduksi banjir pluvial. Tahap akhir penelitian dilakukan melalui analisis spasial dengan overlay hasil simulasi genangan banjir terhadap titik analisis suhu untuk mengevaluasi potensi perubahan suhu akibat keberadaan genangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tebet Eco Park memiliki suhu permukaan sekitar 1.5°C lebih rendah dibandingkan kawasan terbangun di sekitarnya. Analisis regresi menunjukkan bahwa bangunan dan aspal berkorelasi positif, sedangkan kanopi pohon, lahan terbuka hijau, dan saluran berkorelasi negatif. Hasil analisis regresi linear berganda menunjukan koefisien determinasi (R2) pada radius 5meter dan 10meter sebesar 0.592 dan 0.601. Konfigurasi tutupan lahan optimum untuk mencapai suhu kenyamanan 26°C didominasi oleh kanopi pohon sebesar 46.79% pada radius 5 m dan 61.99% pada radius 10 m. Pada aspek hidrologi, kondisi eksisting Tebet Eco Park mampu mereduksi banjir sebesar 35% pada hujan kala ulang 5 tahun dan 31% pada kala ulang 10 tahun namun masih terjadi limpasan keluar pengembangan Tebet Eco Park. Penerapan skenario optimasi dengan adanya tanggul alami, saluran pembawa, dan kombinasi keduanya mampu meningkatkan efektivitas reduksi banjir masing-masing 41%, 37%, dan 39. Analisis integrasi menunjukkan bahwa keberadaan genangan meningkatkan proporsi badan air sehingga berpotensi menurunkan suhu permukaan sebesar 0.61°C –0.73°C pada area yang tergenang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tebet Eco Park sebagai blue-green infrastructure (BGI) efektif dalam mitigasi urban heat island dan reduksi banjir pluvial, dengan efektivitas pengendalian banjir masih dapat ditingkatkan melalui optimasi sistem drainase. Integrasi analisis suhu permukaan dan pemodelan hidrologi-hidraulika menunjukkan bahwa pendekatan blue-green infrastructure (BGI) berpotensi menjadi strategi adaptasi perubahan iklim di kawasan perkotaan. Penelitian selanjutnya disarankan mengembangkan pemodelan yang mempertimbangkan pengaruh backwater Sungai Ciliwung, sedimen, kualitas air, dan penerapan konsep low impact development (LID) serta evaluasi aspek sosial dan ekonomi untuk memperoleh penilaian yang lebih komprehensif terhadap kinerja blue-green infrastructure (BGI).