Lahan gambut di Pulau Kalimantan memiliki nilai ekonomi yang tinggi bagi
Indonesia karena 48% dari seluruh area lahan gambut ini termasuk dalam konsensi
bisnis (Pantau Gambut, 2023). Namun, alih fungsi lahan membuat area ini rentan
terhadap kebakaran hutan dan lahan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Rimbawan dan Nur (2021) di Kota Banjarbaru, nilai kerugian akibat kebakaran
lahan gambut per 100 Ha mencapai kurang lebih 1 miliar Rupiah. Dengan
generalisasi, kerugian pada tahun 2019 akibat kebakaran lahan gambut mencapai
11,611 triliun Rupiah. Oleh karena potensi ekonomi yang tinggi dan adanya risiko
kerugian yang tinggi pula, perlu dibuat upaya mitigasi kerugian finansial akibat
kebakaran pada lahan gambut ini.
Penelitian ini ditujukan untuk memitigasi risiko kerugian finansial tersebut melalui
formulasi perhitungan premi murni asuransi. Sejalan dengan tujuan tersebut,
dikembangkan sebuah model prediktif berbasis Convolutional Long Short-Term
Memory (ConvLSTM) dan Convolutional Neural Network (CNN) untuk
mengestimasi peluang terjadinya kebakaran pada lahan gambut. ConvLSTM
diimplementasikan sebagai arsitektur dasar karena kemampuannya dalam
mengolah data spasial dan temporal secara simultan. Sementara itu, CNN
digunakan untuk mengoptimalkan prediksi peluang melalui kemampuannya dalam
menganalisis representasi fitur spasial.
Model yang dibangun berhasil mendapatkan nilai presisi sebesar 0,1698 dan recall
sebesar 0,0264 dengan nilai ROC AUC dan PR AUC sebesar 0,7 dan 0,1191. Hasil
ini sudah cukup baik mengingat kemampuan model memprediksi titik api mencapai
dua kali lebih baik daripada tebakan acak. Hasil dari model ini juga dapat
memprediksi peluang kebakaran pada satu minggu ke depan. Dengan memasukkan
nilai severitas kebakaran, diperoleh distribusi kebakaran pada 4 kelas risiko, yaitu
rendah, menengah bawah, menengah atas, dan tinggi yang masing-masing
memberikan premi murni senilai 9,04; 43,37; 245,76; dan 775,24 juta IDR.
Perpustakaan Digital ITB