Perkembangan teknologi observatorium menghasilkan volume data astronomi
yang masif, sehingga pendeteksian objek bergerak seperti asteroid secara
manual menjadi tidak efisien. Algoritma otomatis konvensional sering kali
terkendala oleh tingginya tingkat deteksi palsu (false positive) akibat derau
astrometri. Penelitian ini mengusulkan sistem pipeline otomatis yang mengintegrasikan
pengolahan citra diferensial, machine learning, dan astrodinamika
untuk mendeteksi asteroid serta menentukan parameter orbitnya. Data observasi
yang digunakan adalah citra FITS objek (29981) 1999 TD10 dari observatorium
KPNO. Tahapan ekstraksi dimulai dengan plate solving, reduksi latar
belakang menggunakan algoritma Difference Image Analysis (DIA) ZOGY,
dan penautan spasial dengan K-d Tree untuk membentuk kandidat lintasan
(tracklet). Model Convolutional Neural Network (CNN) kemudian dilatih untuk
membedakan pergerakan objek sejati dari derau. Identitas tracklet yang
lolos divalidasi menggunakan kueri Skybot berbasis probabilitas Gaussian dan
interpolasi JPL Horizons. Terakhir, komputasi orbit dieksekusi menggunakan
metode hibrida Gauss-Herget (Least Squares). Hasil pengujian menunjukkan
model CNN mencapai akurasi validasi 96% dan berhasil memangkas drastis
deteksi palsu. Sistem juga terbukti mampu merekonstruksi secara presisi enam
parameter orbit target utama. Namun, penelitian ini mengungkap bahwa sistem
masih rentan terhadap masalah observasi busur pendek (short-arc) pada
objek minor sekunder yang membutuhkan pengamatan lanjutan.
Perpustakaan Digital ITB