Pasar kendaraan listrik di Indonesia tumbuh dengan cepat, namun apa sebenarnya
yang menggerakkan niat konsumen untuk menggunakan layanan mobilitas listrik
berbasis layanan, di mana pengendara mengakses kendaraan melalui operator
alih-alih memilikinya sendiri, masih belum dipahami dengan baik. Kesenjangan ini
paling terasa di pasar negara berkembang seperti Indonesia, di mana sensitivitas
harga, keterbatasan infrastruktur, dan hambatan kepercayaan membentuk
dinamika adopsi yang cukup berbeda dari yang terlihat di pasar maju. Green SM
hadir di Indonesia pada Desember 2024 sebagai operator taksi listrik pertama di
tanah air dengan armada listrik penuh yang terintegrasi serta infrastruktur
pengisian daya tersendiri. Posisi itu membedakannya dari operator yang sudah
lebih dulu ada, yang baru memulai transisi ke kendaraan listrik setelah Green SM
meluncur, dan menghilangkan hambatan adopsi yang biasanya dilimpahkan
kepada konsumen perorangan. Meski model yang membedakan ini sudah ada, yang
masih belum jelas adalah faktor-faktor mana yang paling kuat menentukan apakah
konsumen Indonesia benar-benar berniat menggunakan layanan tersebut.
Pertanyaan inilah yang mendesak untuk dijawab, baik bagi peneliti maupun
praktisi.
Studi ini menjawab tiga pertanyaan penelitian. Pertama, konstruk mana yang
paling kuat membentuk Sikap (Attitude) terhadap layanan Green SM. Kedua,
konstruk mana yang paling kuat menggerakkan Niat Perilaku (Behavioral
Intention) untuk menggunakan layanan tersebut. Ketiga, bagaimana temuan
empiris dapat menjadi dasar strategi pemasaran yang efektif bagi Green SM di
Indonesia. Sebuah kerangka teoretis terintegrasi dikembangkan untuk menjawab
ketiga pertanyaan ini. Kerangka tersebut menggabungkan Technology Acceptance
Model dengan Theory of Planned Behavior, dan memperluasnya dengan
Kepercayaan (Trust) dan Kepedulian Lingkungan (Environmental Concern)
sebagai penentu tambahan Sikap konsumen. Tujuh hipotesis disusun dari kerangka
tersebut. Kegunaan yang Dirasakan (Perceived Usefulness) dan Kemudahan
Penggunaan yang Dirasakan (Perceived Ease of Use) diharapkan berpengaruh
positif terhadap Sikap. Sikap, Norma Subjektif (Subjective Norm), dan Kontrol
Perilaku yang Dirasakan (Perceived Behavioral Control) diharapkan berpengaruh
iv
positif terhadap Niat Perilaku. Kepedulian Lingkungan dan Kepercayaan juga
diharapkan masing-masing berpengaruh positif terhadap Sikap.
Survei kuantitatif cross-sectional dilakukan terhadap pengguna ride-hailing aktif
di Jabodetabek yang pernah menggunakan layanan tersebut dalam enam bulan
menjelang pengumpulan data. Pengambilan sampel screened convenience
memastikan bahwa sampel terdiri dari pengguna yang mampu mengevaluasi
proposisi layanan. Partial Least Squares Structural Equation Modeling digunakan
sepanjang proses analisis, termasuk evaluasi measurement model dan pengujian
hipotesis struktural dengan bootstrap resampling dan bias-corrected confidence
intervals.
Measurement model terbukti kokoh, menunjukkan reliabilitas dan validitas yang
kuat di semua konstruk. Selanjutnya, structural model menjelaskan sebagian besar
variansi pada Sikap maupun Niat Perilaku, yang menegaskan daya jelas model
untuk perilaku konsumen yang kompleks. Sebagian besar hipotesis didukung oleh
data. Kepercayaan muncul sebagai prediktor terkuat Sikap, yang menandai
kredibilitas sebagai hambatan utama bagi pemain baru di industri yang sensitif
terhadap keselamatan. Kegunaan yang Dirasakan juga signifikan dalam
memprediksi Sikap, yang berarti nilai fungsional memang penting, tetapi belum
cukup membuat Green SM tampil berbeda dari alternatif yang ada. Sikap ternyata
menjadi penggerak terkuat Niat Perilaku, sehingga menjadi prediktor paling jelas
dari Niat Perilaku yang dinyatakan. Norma Subjektif juga signifikan dalam
memprediksi Niat Perilaku, sejalan dengan dinamika sosial kolektivis yang menjadi
ciri Indonesia. Tiga hipotesis tidak didukung. Kemudahan Penggunaan yang
Dirasakan dan Kontrol Perilaku yang Dirasakan menunjukkan ceiling effect yang
muncul dari familiaritas digital yang tinggi dan persepsi aksesibilitas ride-hailing
yang seragam tinggi dalam sampel pengguna urban berpengalaman. Kepedulian
Lingkungan tidak berpengaruh langsung terhadap Sikap, sejalan dengan value
action gap yang banyak didokumentasikan di pasar negara berkembang yang
sensitif terhadap harga.
Temuan ini menunjukkan bahwa tantangan utama Green SM terletak pada
kesenjangan kepercayaan dan nilai fungsional, bukan pada kesenjangan kesadaran
lingkungan. Dari sini muncul tiga solusi yang dilandasi analisis. Pertama, program
trust-building yang dibangun di atas sertifikasi pengemudi dan transparansi
layanan. Kedua, kampanye komunikasi nilai fungsional yang menyisipkan manfaat
lingkungan ke dalam framing kegunaan. Ketiga, program social amplification yang
memanfaatkan insentif referral dan kemitraan korporat untuk membangun
normative endorsement.
Penelitian ini memberikan salah satu pengujian empiris paling awal terhadap
kerangka TAM-TPB terintegrasi dalam konteks mobilitas listrik berbasis layanan
di pasar negara berkembang. Penelitian ini menunjukkan bahwa model berbasis
layanan dapat menghilangkan hambatan adopsi EV tradisional secara struktural
dengan menginternalkan pengelolaannya. Penelitian ini juga mendukung
Kepercayaan sebagai konstruk dominan bagi pemain baru di kategori layanan
yang sensitif terhadap keselamatan. Dan menyumbang bukti bahwa Kepedulian
Lingkungan beroperasi sebagai penggerak Sikap secara tidak langsung, bukan
langsung, di pasar negara berkembang yang sensitif terhadap harga.
Perpustakaan Digital ITB