Biodiesel merupakan sumber daya energi terbarukan yang dihasilkan dari minyak nabati atau lemak hewani yang saat ini digunakan sebagai pengganti dari diesel fosil. Karbon aktif merupakan material dengan daya adsorpsi yang baik karena memiliki volume dan luas permukaan pori yang besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi serta karakteristik dari biodiesel dan karbon aktif yang dibuat dari salah satu sumber daya yang melimpah di Indonesia, yaitu kopi dan terkhususnya limbah ampas kopi.
Kopi merupakan komoditas kedua terbesar yang diperjual belikan dalam perdagangan dunia setelah minyak bumi. Indonesia sebagai negara penghasil kopi ke-4 terbesar di dunia dengan jumlah produksi sebesar 565,08 ribu ton dan konsumsi mencapai 288 ribu ton pada tahun 2018/2019 membuat ketersediaan ampas kopi ini melimpah. Biodiesel diperoleh dengan melakukan ekstraksi minyak dari ampas kopi yang sudah diseduh menggunakan metode sokletasi dengan pelarut n-heksana dan rendemen minyak yang berhasil diperoleh sebesar 18,1% dari berat ampas kopi kering. Minyak kopi ini kemudian diesterifikasi dan transesterifikasi untuk menghasilkan biodiesel dengan rendemen sebesar 57,3% dari minyak kopi atau 10,4% terhadap massa ampas kopi kering dengan nilai kalor 36,7 MJ/kg. Dari pengujian yang dilakukan, biodiesel dari limbah ampas kopi ini memiliki massa jenis (15°C) sebesar 0,9 g/mL, viskositas kinematik (40°C) 7,7 mm2/s, angka asam 1,2 mg KOH/g minyak, angka sabun 197,2 mg KOH/g minyak, angka yodium 26,9 %-b (g-I2/100g), dan kestabilan oksidasi 0,1 jam. Tidak semua karakteristik biodiesel memenuhi standar biodiesel nasional (SNI 7182:2015) seperti viskositas kinematik, angka asam, dan kestabilan oksidasi. Biodiesel yang diperoleh dari ampas kopi dapat digunakan sebagai bahan penambah atau pelengkap bersama dengan biodiesel dari kelapa sawit seperti pada biodiesel B30 yang merupakan produk biodiesel yang dijual di Indonesia.
Residu berupa ampas setelah proses ekstraksi minyak masih memiliki potensi untuk dioleh menjadi karbon aktif dengan aktivasi 2 langkah. Proses karbonisasi dilakukan pada temperatur 500, 600, 700, dan 800°C selama 30 menit yang kemudian diaktivasi secara kimiawi dengan kalium hidroksida (KOH) pada temperatur aktivasi 750°C selama 2 jam. Sebagai perbandingan juga dilakukan proses pembuatan karbon aktif dari ampas kopi tanpa diekstraksi minyaknya terlebih dahulu untuk mengetahui pengaruh ekstraksi minyak terhadap karakteristik dan performa adsorpsi dari karbon aktif. Karbon aktif yang memenuhi standar karbon aktif nasional (SNI 06 – 3730 – 1995) adalah karbon aktif yang terbuat dari ampas kopi baik yang sudah diekstraksi maupun yang belum diekstraksi minyak dan melalui proses karbonisasi pada temperatur 600, 700, dan 800°C. Daya serap karbon aktif yang terbuat dari ampas kopi yang sudah melalui proses ekstraksi minyak lebih baik jika dibandingkan dengan ampas kopi yang belum diekstraksi minyak. Daya serap karbon aktif terbaik diperoleh pada karbon aktif dengan bahan baku berupa ampas kopi yang sudah diproses ekstraksi minyak dan dikarbonisasi pada 700°C dengan daya serap yodium sebesar 1224,6 mg/g, daya serap biru metilen 153,1 mg/g, kadar air 2,1%, kadar abu 3,0%, kadar zat mudah menguap 18,2%, dan kadar karbon tetap 76,7%. Sedangkan untuk karbon aktif yang terbuat dari ampas kopi tanpa melalui ekstraksi minyak, daya serap terbaik diperoleh pada karbon aktif yang melalui proses karbonisasi pada 800°C dengan daya serap yodium sebesar 966,0 mg/g, daya serap biru metilen 133,3 mg/g, kadar air 1,8%, kadar abu 5,7%, kadar zat mudah menguap 23,7% dan kadar karbon tetap sebesar 68,9%.
Perpustakaan Digital ITB