KHANSA LUTHFIYAH ARIQAH
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
KHANSA LUTHFIYAH ARIQAH
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
KHANSA LUTHFIYAH ARIQAH
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
KHANSA LUTHFIYAH ARIQAH
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
KHANSA LUTHFIYAH ARIQAH
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
KHANSA LUTHFIYAH ARIQAH
EMBARGO  2029-02-05 
EMBARGO  2029-02-05 
Kebutuhan bahan bakar dari tahun ke tahun terus meningkat, sementara ketersediaannya semakin terbatas khususnya untuk bahan bakar berbasis fosil. Mikroalga berpotensi sebagai bahan baku biodiesel karena kandungan lipidnya yang dapat dikonversi menjadi FAME (Metil Ester Asam Lemak). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kultivasi mikroalga laut di luar ruangan terhadap kadar lipid dan komposisi FAME. Sampel yang digunakan adalah kultur mikroalga yang berasal dari perairan pantai Pulau Bidadari, Teluk Jakarta (selanjutnya disebut sebagai kultur TBI). Kultur TBI dimurnikan dengan metode pengenceran berseri dan dikultivasi berulang hingga diperoleh kurva pertumbuhan. Spesies sampel diidentifikasi secara genetik menggunakan analisis urutan gen penanda 18S rRNA dan rbcL serta secara morofologi berdasarkan citra sel di bawah mikroskop cahaya. Lipid diisolasi dari kultur TBI dengan metode sohxlet dan dikonversi menjadi FAME melalui reaksi transesterifikasi. Karakteristik FAME yang dihasilkan dianalisis dengan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan kultur TBI memiliki tiga fase pertumbuhan, yaitu fase logaritma (hari ke-0-8), fase stasioner (hari ke-9-14), dan fase kematian (dimulai hari ke 14). Analisis urutan nukleotida fragmen gen dan pohon filogenetik menunjukkan bahwa kultur TBI berkerabat terdekat dengan Conticribra weissflogii berdasarkan gen 18S rRNA, sedangkan berdasarkan gen rbcL kultur TBI berkerabat dekat dengan tiga diatom yaitu Conticribra weissflogii, Thlassiosira weissflogii, dan Thalassiosira gessnerii. Analisis morfologi menunjukkan bahwa kultur TBI lebih mirip dengan C. Weissflogii. Oleh karena itu, sampel kultur diidentifikasi sebagai Conticribra sp. galur TBI. Kadar lipid kultur TBI di luar ruangan yang dipanen pada awal fase stasioner (hari ke-10; 3,84 × 10-9 g/sel) lebih tinggi daripada kultur di dalam ruangan yang dipanen di fase yang sama (1,92 × 10-9 g/sel). Sementara kadar lipid kultur TBI di dalam ruangan yang dipanen di awal fase stasioner tersebut lebih besar sedikit saja dari kultur yang dipanen di pertengahan fase logaritma (hari ke-6; 1,44 × 10-9 g/sel). Komposisi FAME, asam lemak jenuh (SFA) : asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) : asam lemak tak jenuh ganda (PUFA), dari kultur di luar ruangan (fase stasioner, hari ke-10), kultur di dalam ruangan (fase stasioner, hari ke-10), dan kultur di dalam ruangan (fase logaritma, hari ke-6) secara berturut-turut adalah 40,45 : 48,92 : 9,74, 33,01 : 50,07 : 16,92, dan 4,60 : 6,23 : 89,17. Sehingga, FAME hasil kultivasi luar ruangan merupakan bahan baku yang paling sesuai untuk aplikasi biodiesel.
Perpustakaan Digital ITB