digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penggunaan pestisida yang masif dalam sektor agrikultur menimbulkan kekhawatiran serius terhadap akumulasi residu berbahaya, sehingga dibutuhkan metode deteksi yang sensitif, selektif, dan ramah lingkungan. Penelitian ini mengembangkan sensor fluoresensi berbasis carbon dots (CDs) yang disintesis dari limbah ampas kopi melalui metode hidrotermal dengan dopan Tris(hydroxymethyl)aminomethane (Tris) dan cerium nitrat, serta dikombinasikan dengan nanopartikel perak (AgNPs) dan nanopartikel cerium oksida (CeNPs) sebagai quencher dalam skema turn-off/turn-on untuk deteksi glifosat. Karakterisasi menunjukkan bahwa CDs termodifikasi Tris (CDs–Tris) memiliki ukuran hidrodinamik terkecil, zeta potensial paling negatif (–21,12 mV), puncak emisi pada 435,5 nm, intensitas fluoresensi 3551 a.u., dan quantum yield 67%, lebih tinggi dibandingkan CDs tanpa dopan dan CDs terdoping Ce, serta mempertahankan 66,45% intensitas awal setelah tujuh hari. AgNPs dan CeNPs bertindak sebagai quencher efektif; pada konsentrasi 1,5% b/b, AgNPs menurunkan intensitas CDs sebesar 43,54%, sementara CeNPs menurunkannya 65,52%, menunjukkan pemadaman yang lebih kuat oleh CeNPs. Dalam sistem komposit, CDs–Tris–CeNPs memadamkan intensitas sebesar 61,30% dan, setelah penambahan glifosat (1–1000 ppm), memberikan pemulihan fluoresensi sekitar 76–77%, lebih tinggi daripada konfigurasi lain sehingga menjadi sistem paling responsif. Pada ekstrak biji kopi Liberika, CDs menunjukkan mode turn-off, sedangkan CDs–CeNPs menampilkan mode turn-on yang bergantung konsentrasi glifosat, sehingga memungkinkan kuantifikasi dalam matriks kompleks. Hasil ini menunjukkan bahwa sistem CDs–Tris–CeNPs berbasis ampas kopi berpotensi sebagai nanosensor fluoresensi yang efektif untuk pendeteksian residu glifosat pada produk agrikultur.