Dalam rangka menangani kesenjangan pembangunan antara desa dan kota,
pemerintah Indonesia membangun indeks desa untuk mengkategorisasi desa.
Proses ini membantu pemerintah untuk menyusun kebijakan yang tepat guna
sesuai dengan kondisi desa, Indeks ini dikenal sebagai Indeks Desa Membangun
(IDM). Salah satu pilar dalam pengukuran IDM adalah pengukuran Indeks
Ketahanan Ekonomi (IKE) dan Indeks Ketahanan Sosial (IKS). Riset ini muncul
sebagai metode alternatif yang dapat digunakan sebagai verifikasi data dan
prediksi yang cepat, efisien, dan terbebas dari bias untuk estimasi IKE dan IKS di
tingkat desa. Penelitian ini menggunakan 13 variabel geospasial multisumber
yang kemudian diekstraksi menggunakan statistik zonal pada unit administrasi
desa. Data ini kemudian digunakan untuk melatih empat model (random forest,
Linier regresi, PCA, dan Penjumlahan berbobot (Spearman)) yang kemudian
kinerjanya dievaluasi menggunakan Koefisien Determinasi R2 , Mean Absolute
Error (MAE), dan Root Mean Square Error (RMSE). Hasil evaluasi model
didapatkan nilai R2 (IKE = 0.4897, IKS = 0.4681) dan error (IKE: MAE = 0.0744
, RMSE = 0.0944 ; IKS: MAE = 0.0492, RMSE = 0.0623 ) terkecil dimiliki
model yang dilatih menggunakan metode random forest. Selain itu, model yang
dibentuk dengan random forest stabil setelah diuji dengan beragam kondisi
topografi dan demografi. Secara keseluruhan, hasil ini mengisyaratkan bahwa data
penginderaan jauh multi sumber mampu untuk memberikan nilai prediksi bagi
IKE dan IKS meski masih ada ruang untuk peningkatan akurasi dengan
penggunaan metode yang lebih robust serta penambahan variabel yang berkorelasi
langsung dengan ekonomi sepert POI.
Perpustakaan Digital ITB