Perkembangan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS) dan integrasi berbagai konstelasi satelit seperti GPS, GLONASS, Galileo, dan BeiDou telah membuka peluang untuk memanfaatkan perangkat konsumen, khususnya smartphone, dalam aplikasi pengukuran posisi. Namun, meskipun smartphone modern, khususnya model flagship, dapat mengakses Raw GNSS hasil pengukuran, kualitas pengukuran posisi sering kali terbatas oleh kualitas antena internal, kebisingan sinyal, serta sensitivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan receiver geodetik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja GNSS pada smartphone flagship (Samsung Galaxy Note 10 dan Samsung Z Fold 6) dibandingkan dengan receiver geodetik, dengan fokus pada pengamatan statik dan kinematik menggunakan pendekatan co-location, di mana smartphone dan receiver geodetik ditempatkan pada kondisi penerimaan sinyal yang identik untuk memungkinkan perbandingan yang objektif. Dalam penelitian ini, data yang digunakan terbatas pada data pseudorange, karena hanya data tersebut yang dapat diekstrak dan diunduh melalui perangkat smartphone. Data fase tidak tersedia untuk pengolahan data GNSS pada smartphone, sehingga hanya data pseudorange yang digunakan dalam analisis dan pengolahan data GNSS pada penelitian ini.
Penelitian ini membandingkan ketelitian pengukuran posisi pada berbagai kombinasi konstelasi GNSS untuk pengukuran statik, yaitu GPS (G), GPS + GLONASS (GR), GPS + GLONASS + Galileo (GRE), GPS + GLONASS + Galileo + BeiDou (GREC), dan GPS + BeiDou (GC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa smartphone menghasilkan ketelitian horizontal pada baseline pendek <1 dengan konstelasi GPS sebesar 0,07524 m pada titik B4, sedangkan receiver geodetik menunjukkan presisi horizontal pada baseline pendek <1 km dengan konstelasi GPS sebesar 0,00103 m pada titik B4. Fokus penelitian ini adalah untuk mengevaluasi ketelitian pengukuran pada smartphone, tanpa melibatkan data fase, dengan receiver geodetik hanya digunakan sebagai perbandingan. Berdasarkan konstelasi GNSS yang diuji, penggunaan konstelasi tambahan, seperti GPS + GLONASS + Galileo + BeiDou (GREC), memberikan peningkatan ketelitian yang lebih jelas pada kondisi terhalang atau terobstruksi, seperti yang terlihat pada titik B2 (sangat terobstruksi), B5 (agak terobstruksi), dan B7 (sangat terobstruksi), di mana penggabungan konstelasi satelit memberikan hasil yang lebih stabil dan akurat dibandingkan dengan penggunaan GPS saja. Meskipun pada baseline pendek 1-2 km di kondisi open sky, GPS saja sudah cukup memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan konstelasi lainnya. Sebaliknya,
ii
konstelasi GPS menunjukkan performa yang paling rendah dibandingkan dengan lima skema konstelasi lainnya, terutama pada baseline pendek 1-2 km dan kondisi sangat terhalang, seperti yang terlihat pada titik B7. Untuk pengukuran kinematik dengan lintasan, hasil pengukuran yang dilakukan di Area Saraga ITB (area lintasan lebih terbuka) dan Area Kampus Ganesa ITB (area lintasan yang lebih terobstruksi) menunjukkan bahwa GK-SS memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan GK-SK. Di Area Saraga ITB, GK-SS menghasilkan rata-rata pergeseran 6,2844 m dengan standar deviasi 6,2398 m, lebih kecil dibandingkan dengan GK-SK yang memiliki rata-rata 8,1037 m dan standar deviasi 6,6938 m. Di Area Kampus Ganesa ITB, GK-SS menunjukkan hasil yang lebih baik dengan rata-rata pergeseran 3,8226 m dan standar deviasi 3,2222 m, sedangkan GK-SK menghasilkan rata-rata 9,9813 m dan standar deviasi 10,1959 m. Hasil ini menunjukkan bahwa GK-SS, meskipun menggunakan data single smartphone, memberikan ketelitian yang lebih baik dan lebih konsisten dibandingkan dengan GK-SK di kedua lokasi yang diuji. Meskipun seharusnya GK-SK diharapkan memberikan hasil yang lebih baik karena menggunakan pengolahan kinematik, keterbatasan data yang hanya menggunakan pseudorange tanpa data fase dalam penelitian ini membuat pengolahan menggunakan single smartphone (SS) sudah lebih dari cukup dan lebih efektif dibandingkan dengan menggunakan metode kinematik (GK-SK).
Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun smartphone flagship dapat mengakses data GNSS, kualitas pengukuran posisi terbatas oleh sensitivitas antena dan kebisingan sinyal. Penggunaan konstelasi GNSS tambahan seperti GPS + GLONASS + Galileo + BeiDou (GREC) meningkatkan ketelitian, terutama pada kondisi terhalang. Untuk pengukuran kinematik, meskipun pengolahan kinematik (GK-SK) diharapkan memberikan hasil lebih baik, keterbatasan data pseudorange tanpa fase membuat single smartphone (SS) lebih efektif dan konsisten. Pengukuran menggunakan GK-GS tetap lebih stabil, namun penggunaan smartphone menunjukkan potensi untuk aplikasi survei berbiaya rendah di masa depan.
Perpustakaan Digital ITB