Penelitian ini menilai eksposur dan potensi kerugian akibat gempa pada fasilitas
pendidikan, fasilitas kesehatan, dan permukiman di Kawasan konvergensi aktif
segmen Banda, yang berada pada zona tektonik kompleks antara Lempeng
Australia, Pasifik, Eurasia, serta mikroblok lokal. Urgensi penelitian muncul dari
kebutuhan informasi spasial rinci mengenai bangunan publik, karena fasdik dan
faskes tidak hanya menyediakan layanan dasar tetapi juga sering berfungsi sebagai
lokasi evakuasi darurat. Data eksposur makro saat ini belum cukup untuk mitigasi
risiko lokal, sementara permukiman merupakan kategori bangunan paling luas dan
rentan. Oleh karena itu, pemetaan mikrospasial berbasis taksonomi LW, MUR,
MCF, dan CR menjadi penting untuk menilai kerentanan dan mendukung
pengambilan keputusan.
Hasil pemetaan menunjukkan sebagian besar fasdik (SD–SMP–SMA) bertipe
MCF, dengan jumlah tertinggi di Sulawesi Tengah (SD: 2.277; SMP: 696; SMA:
180) dan Sulawesi Utara (SD: 1.892; SMP: 618; SMA: 193), sedangkan Maluku
dan Maluku Utara masih didominasi MUR. Puskesmas sebagian besar juga MCF,
terutama di Sulawesi Tengah (109 unit) dan Maluku (102 unit), sementara MUR
dan LW hadir di Papua Barat dan Papua Barat Daya. Analisis populasi terdampak
(bangunan dengan damage ratio ?10%) menunjukkan jumlah penduduk terdampak
fasdik 12.438–35.343 jiwa (SD), 14.895–33.837 jiwa (SMP), dan 11.448–26.970
jiwa (SMA); faskes 1.125–18.874 jiwa per fasilitas; sedangkan permukiman
menampilkan paparan tertinggi, mencapai ratusan ribu hingga lebih dari satu juta
jiwa per provinsi.
Penelitian ini menyediakan peta eksposur mikrospasial, estimasi kerugian ekonomi,
dan jumlah populasi terdampak, yang dapat digunakan sebagai dasar ilmiah untuk
mitigasi bencana, prioritisasi perkuatan bangunan, alokasi sumber daya, dan
strategi kesiapsiagaan, mendukung pembangunan wilayah tangguh terhadap risiko
gempa bumi.
Perpustakaan Digital ITB