Perkembangan teknologi telah mendorong bidang geodesi menuju pengukuran dan pemodelan berpresisi tinggi. GNSS (Global Navigation Satellite System) menjadi teknologi utama dalam penentuan posisi di Indonesia karena menawarkan kemudahan penggunaan, efisiensi, serta akurasi orde milimeter hingga sentimeter, sehingga sangat mendukung berbagai aplikasi survei modern. Namun, meskipun GNSS sangat efektif untuk penentuan posisi horizontal, penggunaannya dalam penentuan tinggi masih menghadapi kendala karena GNSS hanya menghasilkan tinggi elipsoidal yang merujuk pada ellipsoid referensi, bukan pada permukaan fisik Bumi. Untuk aplikasi praktis seperti pemetaan, konstruksi, dan survei hidrografi, diperlukan tinggi ortometrik yang mengacu pada geoid sebagai permukaan referensi vertikal. Penelitian ini mengkaji pengaruh penerapan variasi densitas lateral dalam pemodelan geoid untuk Pulau Jawa, Indonesia, dengan tujuan meningkatkan akurasi penentuan geoid regional. Pemodelan geoid pada umumnya mengasumsikan densitas konstan sebesar 2.670 kg/m3. Namun demikian, keragaman topografi serta kompleksitas geologi Pulau Jawa mengindikasikan bahwa variasi densitas dapat memengaruhi akurasi model geoid yang dihasilkan. Anomali gayaberat dalam penelitian ini diperoleh dari kombinasi data gayaberat terestris, gayaberat airborne, serta kontribusi komponen gelombang pendek (short wavelength) yang dihitung menggunakan data topografi SRTM 3? untuk wilayah daratan dan SRTM 15?+ untuk wilayah laut. Adapun komponen gelombang panjang (long wavelength) diperoleh dari model geopotensial global EGM2008. Pemodelan geoid dilakukan menggunakan metode Remove Compute Restore (RCR) dengan pendekatan Stokes Helmert 2nd condensation, serta komputasi integral Stokes menggunakan metode 1-Dimensional Fast Fourier Transform (1D FFT). Dua model geoid yang dikembangkan, masing-masing menggunakan densitas konstan 2.670 kg/m3 dan varias densitas lateral dari model UNB_TopoDens. Hasil validasi terhadap data GNSS/leveling menunjukkan bahwa variasi densitas lateral memberikan pengaruh minimal pada wilayah dengan topografi datar, tetapi menghasilkan perbedaan yang lebih signifikan pada daerah dengan perubahan elevasi yang besar. Secara khusus, model dengan variasi densitas menunjukkan perbedaan geoid lokal hingga 30 cm pada wilayah dengan topografi kompleks, yang menegaskan pentingnya pemilihan model densitas untuk penentuan geoid. Meskipun demikian, validasi lanjutan melalui model geoid geometrik tetap diperlukan untuk mengonfirmasi peningkatan akurasi secara menyeluruh di sepanjang wilayah penelitian.
Perpustakaan Digital ITB