digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Adrian Firdaus
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Pelayaran domestik antarpulau di wilayah kepulauan menghadapi tantangan umum, yaitu pelabuhan-pelabuhan pulau memiliki hinterland yang marginal, sehingga peningkatan pelabuhan menjadi pelabuhan peti kemas tidak layak secara ekonomi, sementara arus barang tetap harus bergerak secara efisien di seluruh jaringan. Studi ini mengusulkan jaringan hub–spoke–feeder, di mana peti kemas diangkut dari hub ke pelabuhan spoke terpilih menggunakan kapal peti kemas, kemudian dilakukan de-kontainerisasi di spoke, dan selanjutnya didistribusikan ke pelabuhan feeder menggunakan kapal kargo umum berukuran lebih kecil. Studi ini mengembangkan model jaringan yang mengoptimalkan jumlah dan lokasi pelabuhan spoke serta mengalokasikan pelabuhan feeder ke spoke, berdasarkan pemaksimalan nilai fungsi objektif. Fungsi objektif dirumuskan dari perspektif pemerintah, yang terdiri dari manfaat sistem dari selisih biaya antara konfigurasi yang diusulkan dan sistem eksisting, dibagi dengan nilai relatif dari investasi yang dibutuhkan. Komponen biaya mencakup biaya operasional pelabuhan, biaya transportasi laut, dan biaya waktu muatan. Untuk menangkap volatilitas operasional yang umum terjadi pada pelayaran antarpulau, kerangka kerja ini diperluas dengan memasukkan pengiriman routing pada tingkat spoke–feeder, serta ketidakpastian permintaan dan cuaca melalui pemodelan stokastik. Model ini diterapkan pada studi kasus di Sulawesi Tenggara, Indonesia. Hasil eksperimen deterministik dan stokastik menunjukkan bahwa penerapan pengiriman routing dari spoke tunggal terpilih meningkatkan kinerja jaringan dibandingkan dengan sistem eksisting. Temuan juga menunjukkan bahwa konfigurasi multi-spoke dapat meningkatkan manfaat keseluruhan, namun perlu disesuaikan dengan ketersediaan anggaran pemerintah.