digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pertumbuhan pesat pembangunan gedung bertingkat di Indonesia menarik perhatian penulis dalam memastikan suatu struktur bangunan tinggi aman bagi kehidupan pengguna bangunan di dalamnya. Penelitian ini lahir dari kepedulian terhadap keselamatan bagi penghuni bangunan gedung bertingkat, dengan mengambil studi kasus pada sebuah bangunan apartemen eksisting 14 lantai di Kota Bandung. Pada bangunan yang ditinjau, terdapat ketidaksesuaian antara desain perencanaan dengan pelaksanaan di lapangan terkait mutu material dan tulangan terpasang, hal ini menunjukkan adanya indikasi kegagalan struktural dan tingginya ketidakberaturan geometri yang membuatnya sangat rentan terhadap guncangan gempa. Penelitian ini mengevaluasi kinerja seismik bangunan sebelum dan sesudah perbaikan (retrofitting) pada bangunan yang ditinjau. Evaluasi kelayakan ini dilakukan secara komprehensif melalui pendekatan Performance-Based Seismic Evaluation mengacu pada standar ASCE 41-17 dan Nonlinear Time History Analysis (NLTHA) dengan 11 pasang gempa yang telah diskalakan berdasarkan SNI 8899-2020. Analisis awal mengungkapkan struktur bangunan eksisting tidak aman karena adanya potensi mekanisme keruntuhan soft story di lantai dasar, terdapat beberapa kolom yang telah melampaui batas kritis Collapse Prevention (>CP) untuk tingkat gempa BSE-2E. Menghadapi kondisi ini, penerapan pelapis beton (concrete jacketing) pada kolom menjadi sebuah urgensi keselamatan yang dilakukan. Intervensi ini terbukti sangat efektif menyembuhkan defisiensi kapasitas kolom kritis yang sebelumnya terancam mengalami kegagalan akibat soft story. Bersamaan dengan itu, perkuatan CFRP berhasil meningkatkan kapasitas geser balok sebesar 119% - 134%. Evaluasi menunjukkan perbaikan kinerja struktur yang cukup efektif, tidak terdapat kolom dengan tingkat kinerja (>CP). Mayoritas elemen bangunan (98,71%) berhasil dipulihkan hingga mencapai tingkat kinerja Immediate Occupancy (IO), memastikan bahwa bangunan dapat segera dan aman digunakan kembali sebagai pelindung sesaat setelah gempa terjadi.