digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Nur Azura Lubis
PUBLIC Open In Flipbook Ridha Pratama Rusli

Proses pencucian merupakan tahapan penting dalam pemurnian biodiesel untuk menghilangkan sisa gliserol, sabun, dan katalis yang terbentuk selama reaksi transesterifikasi, sehingga biodiesel yang dihasilkan dapat memenuhi standar mutu. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan kondisi pencucian biodiesel hasil transesterifikasi minyak kelapa sawit menggunakan katalis natrium gliseroksida, serta membandingkan karakteristik hasil pencucian dengan biodiesel yang diproduksi menggunakan katalis NaOH. Optimasi dilakukan menggunakan metode Response Surface Methodology (RSM) dengan desain kuadratik, di mana rasio air pencucian terhadap biodiesel dan temperatur pencucian digunakan sebagai variabel bebas, sedangkan kadar gliserol total dan kadar air biodiesel dijadikan sebagai respon. Hasil analisis ANOVA menunjukkan bahwa model kuadratik signifikan secara statistik untuk kedua respon (p < 0,05), dengan rasio air pencucian sebagai faktor paling dominan. Surface dan contour plot menunjukkan adanya perilaku non-linear pada setiap titik optimasi proses. Kondisi optimum pencucian biodiesel diperoleh pada rasio air pencucian terhadap biodiesel sebesar 1:1,9 dan temperatur pencucian 59 °C. Validasi model menunjukkan deviasi antara nilai prediksi dan hasil eksperimen berada di bawah 5%, yang menandakan akurasi model yang baik. Perbandingan hasil pencucian menunjukkan bahwa biodiesel dengan katalis natrium gliseroksida memiliki kadar air (0,1494-b) dan kadar gliserol total (0,154%-b) yang lebih rendah dibandingkan biodiesel dengan katalis NaOH, dengan penurunan masing-masing sebesar 14,28% dan 16,30%. Hasil ini menunjukkan bahwa penggunaan katalis natrium gliseroksida menghasilkan biodiesel yang lebih mudah dimurnikan melalui proses pencucian dan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan katalis NaOH.