Proses pencucian merupakan tahapan penting dalam pemurnian biodiesel untuk
menghilangkan sisa gliserol, sabun, dan katalis yang terbentuk selama reaksi
transesterifikasi, sehingga biodiesel yang dihasilkan dapat memenuhi standar mutu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan kondisi pencucian biodiesel hasil
transesterifikasi minyak kelapa sawit menggunakan katalis natrium gliseroksida,
serta membandingkan karakteristik hasil pencucian dengan biodiesel yang
diproduksi menggunakan katalis NaOH. Optimasi dilakukan menggunakan metode
Response Surface Methodology (RSM) dengan desain kuadratik, di mana rasio air
pencucian terhadap biodiesel dan temperatur pencucian digunakan sebagai variabel
bebas, sedangkan kadar gliserol total dan kadar air biodiesel dijadikan sebagai
respon.
Hasil analisis ANOVA menunjukkan bahwa model kuadratik signifikan secara
statistik untuk kedua respon (p < 0,05), dengan rasio air pencucian sebagai faktor
paling dominan. Surface dan contour plot menunjukkan adanya perilaku non-linear
pada setiap titik optimasi proses. Kondisi optimum pencucian biodiesel diperoleh
pada rasio air pencucian terhadap biodiesel sebesar 1:1,9 dan temperatur pencucian
59 °C. Validasi model menunjukkan deviasi antara nilai prediksi dan hasil
eksperimen berada di bawah 5%, yang menandakan akurasi model yang baik.
Perbandingan hasil pencucian menunjukkan bahwa biodiesel dengan katalis
natrium gliseroksida memiliki kadar air (0,1494-b) dan kadar gliserol total
(0,154%-b) yang lebih rendah dibandingkan biodiesel dengan katalis NaOH,
dengan penurunan masing-masing sebesar 14,28% dan 16,30%. Hasil ini
menunjukkan bahwa penggunaan katalis natrium gliseroksida menghasilkan
biodiesel yang lebih mudah dimurnikan melalui proses pencucian dan memiliki
kualitas yang lebih baik dibandingkan katalis NaOH.
Perpustakaan Digital ITB