Abstrak - Calista Debora Rajagukguk
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Stunting merupakan kondisi terhambatnya pertumbuhan tinggi badan anak akibat kekurangan
gizi kronis. Infeksi berulang pada saluran pencernaan akibat bakteri patogen merupakan salah
satu pemicu utama dysbiosis mikrobiota usus yang menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi
dan berimplikasi pada stunting. Bakteriosin, peptida antimikroba yang dihasilkan bakteri,
berpotensi menyeimbangkan mikrobiota usus dengan menekan mikroba patogen. Penelitian
sebelumnya telah mengisolasi bakteri Gram positif dan Gram negatif penghasil bakteriosin
sebagai kultur tunggal, tetapi produksinya terbatas baik dalam kekuatan maupun spektrum
hambatan. Penelitian ini bertujuan (1) membandingkan produksi dan aktivitas bakteriosin dari
kultur tunggal dan kultur campuran, (2) menentukan variasi rasio inokulum terbaik untuk kultur
campuran yang menghasilkan aktivitas bakteriosin tertinggi untuk bakteri uji, dan (3)
menentukan perbedaan spektrum inhibisi bakteriosin kultur tunggal dan campuran. Isolat Gram
negatif (OBI 7) dan Gram positif (OBI 20) dikombinasikan dalam kultur campuran dengan tiga
rasio inokulum 1:1, 1:10, dan 10:1 (OBI 7:OBI 20) pada Luria Bertani (LB) broth dengan
Lactobacillus acidophilus pada De Man, Rogosa and Sharpe Broth (MRSB) sebagai kontrol
positif. Kultivasi dilakukan pada 37°C tanpa agitasi selama 48 jam (inokulum 106 CFU/mL).
Ekstrak kasar bakteriosin diperoleh melalui presipitasi amonium sulfat dan diuji terhadap
Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, Staphylococcus aureus, dan Bacillus subtilis (105
CFU/mL) dengan uji difusi cakram Kirby-Bauer pada Mueller-Hinton Agar. Konsentrasi
protein dikuantifikasi dengan uji Bradford. Perbedaan antara kultur tunggal dan campuran
dianalisis dengan one-way ANOVA (? = 5%) menggunakan rasio 1:1 sebagai representasi awal
kultur campuran. Kultur tunggal OBI 20 menghasilkan konsentrasi protein tertinggi (0,38
mg/mL di jam ke-30), berbeda signifikan (p < 0,001) dari rasio 1:1 (0,20 mg/mL di jam ke-36)
dan OBI 7 (0,22 mg/mL di jam ke-24). Namun, konsentrasi protein OBI 20 yang lebih tinggi
tidak berbanding lurus dengan aktivitas antimikrobanya. Rasio 1:1 justru menunjukkan
aktivitas yang lebih cepat dan lebih konsisten, yaitu aktif sejak jam ke-0 hingga jam ke-48
terhadap P. aeruginosa, S. aureus, dan B. subtilis. Zona hambat tertinggi pada P. aeruginosa
(5,65 mm) dan S. aureus (6,60 mm) melampaui kedua kultur tunggal, yang masing-masing
baru aktif pada jam ke-36 dan ke-30, meski pada B. subtilis (5,05 mm) tetap di bawah OBI 7
(6,70 mm). Pengecualian terjadi pada E. coli yang sudah aktif sejak jam ke-0 pada kedua kultur
tunggal dengan puncak tertinggi pada OBI 20 (6,35 mm), melebihi rasio 1:1 (3,80 mm).
Optimasi ketiga rasio menunjukkan bahwa rasio terbaik bersifat spesifik per bakteri uji. Rasio
1:10 unggul terhadap P. aeruginosa (6,45 mm) dan B. subtilis (6,60 mm), sedangkan rasio 10:1
unggul terhadap S. aureus (6,85 mm), seluruhnya berkategori sedang. Kultur campuran juga
terbukti memperluas spektrum inhibisi. OBI 7 tunggal tidak aktif terhadap P. aeruginosa dan
OBI 20 tunggal tidak aktif terhadap S. aureus maupun B. subtilis, sedangkan ketiga rasio
campuran aktif terhadap ketiganya. Temuan ini menunjukkan bahwa interaksi mikroba dalam
sistem kultur campuran mengubah profil produksi dan spektrum aktivitas antimikroba
bakteriosin sehingga berpotensi dikembangkan dalam upaya penanganan dysbiosis melalui
modulasi mikrobiota usus.
Perpustakaan Digital ITB