Di tengah pertumbuhan yang signifikan dari produk exchange-traded fund (ETF)
di Indonesia, pangsa pasar ETF masih tergolong rendah, yaitu sekitar 1% dari
total dana kelolaan (asset under management) industri reksa dana, yang sebagian
disebabkan oleh mayoritas produk ETF yang hanya mereplikasi indeks secara pasif
sehingga menawarkan imbal hasil disesuaikan risiko (risk adjusted return) yang
terdiferensiasi secara terbatas. Penelitian ini mengusulkan dan menguji secara
empiris kerangka konstruksi portofolio factor investing dengan optimalisasi mean
variance yang diterapkan pada konstituen Indeks Bisnis-27 sebagai alternatif untuk
pengembangan produk smart beta ETF. Pada tahap pertama, seluruh 27 saham
konstituen diberi skor dan diperingkat menggunakan model multi-faktor komposit
yang mencakup faktor growth, quality, value, momentum, dan volatility, yang
distandarisasi menggunakan z-score dan diberi bobot yang sama pada kelima
faktor, untuk kemudian dipilih 15 saham teratas. Optimalisasi mean-variance
diterapkan pada 15 saham terpilih menggunakan Solver untuk memperoleh bobot
optimal yang menargetkan imbal hasil disesuaikan risiko yang maksimal.
Portofolio diuji melalui evaluasi kinerja menggunakan imbal hasil bulanan aktual
sepanjang periode November 2021 hingga April 2025, dan kinerjanya
dibandingkan dengan pembobotan equal weight, factor score, dan minimum
variance, serta dengan Indeks Bisnis-27 sebagai tolok ukur (benchmark),
menggunakan Sharpe ratio, Treynor ratio, Jensen's alpha, dan information ratio.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa saham-saham hasil seleksi faktor
mengungguli tolok ukur, di mana optimalisasi mean-variance memberikan kinerja
disesuaikan risiko terbaik dengan Sharpe ratio sebesar 1,45, imbal hasil tahunan
sebesar 25,57%, dan alpha sebesar 23,96%. Temuan ini mendukung kelayakan
penerapan strategi factor based smart beta ETF di pasar modal Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB