digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Di tengah pertumbuhan yang signifikan dari produk exchange-traded fund (ETF) di Indonesia, pangsa pasar ETF masih tergolong rendah, yaitu sekitar 1% dari total dana kelolaan (asset under management) industri reksa dana, yang sebagian disebabkan oleh mayoritas produk ETF yang hanya mereplikasi indeks secara pasif sehingga menawarkan imbal hasil disesuaikan risiko (risk adjusted return) yang terdiferensiasi secara terbatas. Penelitian ini mengusulkan dan menguji secara empiris kerangka konstruksi portofolio factor investing dengan optimalisasi mean variance yang diterapkan pada konstituen Indeks Bisnis-27 sebagai alternatif untuk pengembangan produk smart beta ETF. Pada tahap pertama, seluruh 27 saham konstituen diberi skor dan diperingkat menggunakan model multi-faktor komposit yang mencakup faktor growth, quality, value, momentum, dan volatility, yang distandarisasi menggunakan z-score dan diberi bobot yang sama pada kelima faktor, untuk kemudian dipilih 15 saham teratas. Optimalisasi mean-variance diterapkan pada 15 saham terpilih menggunakan Solver untuk memperoleh bobot optimal yang menargetkan imbal hasil disesuaikan risiko yang maksimal. Portofolio diuji melalui evaluasi kinerja menggunakan imbal hasil bulanan aktual sepanjang periode November 2021 hingga April 2025, dan kinerjanya dibandingkan dengan pembobotan equal weight, factor score, dan minimum variance, serta dengan Indeks Bisnis-27 sebagai tolok ukur (benchmark), menggunakan Sharpe ratio, Treynor ratio, Jensen's alpha, dan information ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa saham-saham hasil seleksi faktor mengungguli tolok ukur, di mana optimalisasi mean-variance memberikan kinerja disesuaikan risiko terbaik dengan Sharpe ratio sebesar 1,45, imbal hasil tahunan sebesar 25,57%, dan alpha sebesar 23,96%. Temuan ini mendukung kelayakan penerapan strategi factor based smart beta ETF di pasar modal Indonesia.