digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Syamsul Maarif
PUBLIC Open In Flipbook Perpustakaan Prodi Arsitektur

Pengembangan desa wisata di Indonesia, khususnya di kawasan lahan basah, sering kali dihadapkan pada tantangan keberlanjutan ekologis dan stagnasi ekonomi lokal. Di Desa Burai, Kabupaten Ogan Ilir, pariwisata yang berjalan linier dan eksploitatif telah memicu degradasi lingkungan berupa banjir, kekeringan rawa lebak, dan penurunan keanekaragaman hayati, yang pada akhirnya mengancam mata pencaharian utama masyarakat seperti nelayan dan petani. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model regeneratif bagi desa wisata lahan basah dan merancang fasilitas wisata yang mampu mengintegrasikan potensi lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi lokal secara sirkular. Pendekatan Regenerative Design yang terdiri dari prinsip Place and Potential, Partnering with Place, Progressive Harmonization dan Regenerative Capacity. menghasilkan perancangan transformasi kawasan melalui sistem zonasi yang tanggap ekologi dan penerapan arsitektur amfibi bersistem modular pelampung yang mampu beradaptasi dengan fluktuasi pasang surut air rawa. Fasad dan struktur bangunan mengadopsi kearifan arsitektur vernakular Sumatera Selatan, secara tipologi, sistem dan pemanfaatan material lokal seperti kayu, bambu, dan purun yang dikerjakan langsung oleh pengrajin lokal. Model ini diwujudkan melalui penyediaan fasilitas terintegrasi yang meliputi Pusat Informasi, Agrikultur Hub, Akuakultur Hub, dan Kultural Hub. Perancangan ini menawarkan model pengembangan fasilitas wisata ini tidak hanya meminimalkan dampak negatif lingkungan, tetapi bertindak sebagai katalisator sosio-ekologis yang secara aktif memulihkan vitalitas ekosistem sungai sekaligus meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian masyarakat Desa Burai.