Kegagalan pada suatu struktur bendung tipe urugan yang terjadi bisa dikarenakan
oleh kegagalan akibat erosi dan rembesan, kerusakan akibat retakan, longsoran
(landslide), peluapan (overtopping) maupun kegagalan akibat adanya gempa bumi.
Deformasi pada bendungan tipe urugan akibat gempa adalah fenomena kompleks
yang mempengaruhi integritas struktural dan keamanan bangunan tersebut.
berbagai metode dalam memprediksi deformasi akibat gempa telah dikembangkan,
mulai dari metode sederhana satu dimensi (1D) seperti metode Newmark (1965)
dan Makdisi & Seed (1977), hingga analisis dinamik lanjutan tiga dimensi (3D)
berbasis effective stress coupled dynamic analysis dengan input riwayat waktu
percepatan. Saat ini metode simplifikasi deformasi 2D yang dipakai dalam
menghitung deformasi gempa akibat beban gempa masih belum familiar, metode
2D dan 3D biasanya langsung menggunakan metode riwayat yang memerlukan
biaya komputasi tinggi dan waktu analisis relatif lama. Metode Simplifikasi 2D
yang dirumuskan Jitno (2019) dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam
perhitungan dan prediksi deformasi seismik pada bendungan urugan, dengan
pengujian pada beberapa studi kasus tambahan sebagai upaya validasu dan
pembuktian keandalannya.
Perpustakaan Digital ITB