digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PT Kereta Api Indonesia (Persero) saat ini menjalankan transformasi besar yang mencakup digitalisasi proses bisnis dan penguatan sistem pengelolaan kinerja. Dalam konteks tersebut, Key Performance Indicators (KPI) berperan sebagai instrumen utama dalam Performance Management System (PMS) untuk memastikan keselarasan antara strategi perusahaan dan pelaksanaan kinerja di tingkat unit maupun individu. Namun, efektivitas perencanaan KPI tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan sistem, melainkan sangat bergantung pada bagaimana perubahan tersebut dipahami, dijalankan, dan diperkuat secara berkelanjutan dalam organisasi. Penelitian ini menganalisis efektivitas tahapan manajemen perubahan dalam proses perencanaan KPI menggunakan model ADKAR dengan pendekatan mixed-methods, melalui survei kuantitatif terhadap 220 manajer BOD-3 dan wawancara kualitatif mendalam dengan enam narasumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi Awareness, Desire, dan Ability berada pada tingkat yang relatif tinggi, sementara tantangan utama ditemukan pada dimensi Knowledge dan Reinforcement. Rendahnya pemahaman teknis perencanaan KPI dipengaruhi oleh kesenjangan transfer pengetahuan, metode sosialisasi massal di tengah beban kerja tinggi, serta keterbatasan pemahaman terhadap logika indikator dan mekanisme penetapan target, sementara mekanisme reinforcement masih cenderung bersifat administratif dengan umpan balik yang belum terstruktur. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan dua strategi utama, yaitu integrasi transfer knowledge perencanaan KPI ke dalam siklus kerja manajerial dan pelembagaan mekanisme feedback serta validasi kualitas KPI melalui proses evaluasi berkala, guna menggeser perencanaan KPI dari kepatuhan administratif menuju instrumen strategis yang mendorong perubahan perilaku kinerja secara berkelanjutan.