digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Temmy Ragil Cantikasari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Temmy Ragil Cantikasari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Temmy Ragil Cantikasari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Temmy Ragil Cantikasari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Temmy Ragil Cantikasari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Temmy Ragil Cantikasari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Temmy Ragil Cantikasari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Temmy Ragil Cantikasari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Temmy Ragil Cantikasari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Fenomena Surface Urban Heat Island (SUHI) menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan kota, sementara badan air perkotaan berpotensi sebagai penyangga termal alami melalui mekanisme Water Cooling Island (WCI). Kajian empiris WCI di kota tropis lembap ekuatorial, termasuk Kota Samarinda, masih sangat terbatas. Penelitian ini menganalisis efek pendinginan badan air terhadap SUHI di Kota Samarinda, mencakup intensitas pendinginan, faktor morfologi badan air dan tutupan lahan yang memengaruhinya, serta estimasi potensi penurunan suhu. Penelitian bersifat deskriptif-kuantitatif menggunakan citra Landsat 8/9 (2025) dan ESRI Land Cover 2025 yang diolah di Google Earth Engine. Efek pendinginan dianalisis oleh kurva suhu-jarak (LOESS) pada 24 objek badan air, dan dikorelasikan (Spearman) dengan luas, bentuk lanskap, proporsi vegetasi, dan permukaan kedap air. Hasil temuan menunjukkan bahwa SUHI nyata terjadi di kawasan terbangun padat. Sebanyak 19 dari 24 objek menunjukkan pola WCI valid, dengan rata-rata jangkauan 207 meter, amplitudo 1,90°C, dan gradien 11,12°C/km. Hal ini mengindikasikan efek pendinginan yang terlokalisasi. Danau menghasilkan jangkauan lebih luas namun landai, sedangkan badan sungai lebih pendek namun lebih tajam. Proporsi vegetasi dan permukaan kedap air paling konsisten memengaruhi efektivitas pendinginan, sedangkan luas dan bentuk badan air relatif kurang menentukan. Potensi penurunan suhu diestimasikan berkisar 1,90°C hingga 5,75°C, dengan celah peningkatan sekitar 3,85°C. Temuan ini menegaskan bahwa efek pendinginan badan air sangat bergantung pada kondisi vegetasi dan permukaan kedap air di sekitarnya, sehingga optimalisasi kedua komponen tersebut perlu menjadi prioritas dalam strategi mitigasi SUHI di Kota Samarinda.