digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Paguh Randana Ginting
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Paguh Randana Ginting
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Paguh Randana Ginting
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Paguh Randana Ginting
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Paguh Randana Ginting
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Paguh Randana Ginting
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Paguh Randana Ginting
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Paguh Randana Ginting
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Paguh Randana Ginting
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Berjalan kaki merupakan moda mobilitas perkotaan yang esensial, namun rasa aman di ruang publik kerap tidak dirasakan merata oleh pejalan kaki perempuan akibat kerentanan terhadap pelecehan. Koridor Jalan Braga di Kota Bandung adalah kawasan cagar budaya dan destinasi wisata malam berintensitas pejalan kaki tinggi. Walaupun pemerintah kota tengah merevitalisasi trotoar, koridor ini masih menyimpan masalah kerawanan, termasuk riwayat kekerasan seksual. Kajian walkability terdahulu umumnya menilai kelayakan fisik jalan menggunakan persepsi umum tanpa membedakan pengalaman gender. Merespons hal tersebut, penelitian ini bertujuan merumuskan arahan penataan Koridor Jalan Braga guna meningkatkan rasa aman berjalan bagi pejalan kaki perempuan. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemisahan identifikasi sumber persoalan ke dalam aspek desain (fisik) dan non-desain (sosial dan pengelolaan) yang berpusat pada kacamata perempuan. Penelitian ini menerapkan pendekatan campuran (mixed methods) dengan rancangan konvergen, yang menekankan bobot kuantitatif. Data primer dihimpun secara terpisah melalui dua cara. Pertama, pengamatan lapangan terstruktur untuk menggambarkan kondisi jalur di tiga segmen koridor pada siang dan malam hari menggunakan enam kriteria desain berbasis Crime Prevention Through Environmental Design (CPTED). Kedua, penyebaran kuesioner kepada 120 pejalan kaki perempuan yang dipilih melalui purposive sampling untuk mengukur kinerja dan kepentingan atas tujuh kriteria keamanan, ditambah analisis tematik untuk pertanyaan terbuka. Analisis data memadukan uji Wilcoxon guna membandingkan rasa aman siang dan malam, serta Importance-Performance Analysis (IPA) untuk memetakan prioritas penanganan. Hasil identifikasi karakteristik kondisi jalur kemudian digabungkan hasil persepsi dan kebutuhan untuk membangun Pohon Masalah dan Pohon Tujuan. Hasil penelitian mengonfirmasi bahwa rasa aman perempuan di Jalan Braga dibentuk oleh lingkungan, sosial, waktu, dan faktor personal. Uji Wilcoxon menunjukkan penurunan rasa aman yang sangat signifikan dari siang ke malam hari pada seluruh segmen. Berdasarkan IPA, keamanan dari gangguan/pelecehan (non-desain) serta keterbukaan dan visibilitas (desain) menjadi prioritas utama penataan karena dinilai sangat penting namun kinerjanya rendah. Identifikasi silang memperlihatkan gradien masalah keruangan yang berbeda. Segmen 1 dan Segmen 2 (selatan daniv tengah) memiliki pengawasan alami yang kuat, namun keleluasaan bergerak terhambat oleh penyempitan lebar efektif jalur (hingga 0,80 meter) akibat parkir dan pedagang. Hal ini memperbesar risiko sentuhan tak diinginkan saat koridor padat pengunjung hiburan malam. Sebaliknya, Segmen 3 (utara) menjadi area paling rawan akibat runtuhnya aktivitas tepi pada malam hari, minimnya cahaya, serta banyaknya relung sudut buta dan fasad mati. Sebagai solusi, penelitian ini menyusun arahan penataan komprehensif berdasarkan Pohon Tujuan. Arahan fisik (desain) mencakup penambahan lebar efektif jalur bebas hambatan di Segmen 1 dan 2, serta optimalisasi pencahayaan titik gelap di Segmen 3 dan lorong. Arahan pengelolaan (non-desain) meliputi penghidupan aktivitas malam di Segmen 3, penyediaan patroli terjadwal, pengawasan kamera pada mulut gang, dan penyediaan titik bantuan darurat terpadu. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis bagi Pemerintah Kota Bandung dalam menajamkan program revitalisasi trotoar yang responsif gender, serta melengkapi khazanah keilmuan perancangan kota melalui model pengukuran rasa aman yang mengintegrasikan mutu fisik jalan dengan dimensi kerentanan sosial pengguna.