ABSTRAK Roes Davina Syarla Anggana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Roes Davina Syarla Anggana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Roes Davina Syarla Anggana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Roes Davina Syarla Anggana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Roes Davina Syarla Anggana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Roes Davina Syarla Anggana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Roes Davina Syarla Anggana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Roes Davina Syarla Anggana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Roes Davina Syarla Anggana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Pergeseran paradigma pembangunan mendorong penerapan prinsip GEDSI sejak
tahap perencanaan dan penganggaran guna menjamin akses, kontrol, partisipasi,
serta manfaat bagi seluruh kelompok masyarakat. Jalur pejalan kaki digunakan
secara langsung oleh beragam pengguna ruang sehingga berkaitan dengan
pemenuhan kebutuhan mobilitas dan aksesibilitas, khususnya di Kota Bandung
yang memiliki intensitas pergerakan tinggi. Implementasi GEDSI pada
perencanaan dan penganggaran jalur pejalan kaki di Kota Bandung melibatkan
berbagai organisasi pemerintah dengan kepentingan berbeda sehingga membentuk
koordinasi yang dinamis serta berpotensi memengaruhi keberlangsungan proses.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bentuk koordinasi antar Organisasi
Pemerintah Kota Bandung dalam implementasi GEDSI pada proses perencanaan
dan penganggaran jalur pejalan kaki. Fenomena koordinasi ditinjau melalui
pendekatan kualitatif deskriptif secara induktif dengan perspektif normatif. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pembagian tugas antar organisasi pemerintah
terbentuk berdasarkan fungsi, kewenangan, serta tahapan pembangunan dengan
koordinasi administratif dan manajerial sebagai bentuk paling dominan. Hubungan
kesalingtergantungan terbentuk melalui kontribusi antar anggota koordinasi yang
saling melengkapi dengan dominasi pola berurutan, sementara pola timbal balik
hanya pada pembahasan serta penyesuaian keputusan tertentu. Jejaring koordinasi
berukuran besar dan cenderung terstruktur dengan Bapperida Kota Bandung
menempati posisi pusat dalam menghubungkan berbagai tahapan perencanaan dan
penganggaran. Kelembagaan yang terbentuk masih menghadapi keterbatasan
berupa ketiadaan acuan bersama, dukungan teknis PUG dan PPRG bersifat umum,
keterlibatan aktor relevan belum menyeluruh, serta posisi masyarakat yang terbatas
dalam pengambilan keputusan.
Perpustakaan Digital ITB