digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Permukiman kumuh merupakan salah satu permasalahan perkotaan yang berkaitan dengan rendahnya kualitas lingkungan dan belum terpenuhinya berbagai aspek kelayakhunian permukiman. Penanganan kawasan permukiman kumuh pada dasarnya tidak hanya diarahkan pada peningkatan kualitas fisik lingkungan, tetapi juga perlu memperhatikan aspek sosial, ekonomi, serta keterlibatan masyarakat dalam pembangunan. Salah satu pendekatan yang dapat mendukung upaya tersebut adalah pembangunan berbasis masyarakat melalui intervensi pada skala lingkungan. Pemerintah Kota Jambi melaksanakan Program Kampung Bahagia sebagai program pembangunan berbasis masyarakat yang dilaksanakan pada tingkat Rukun Tetangga (RT) dengan memberikan ruang kepada masyarakat untuk mengidentifikasi kebutuhan, menentukan prioritas, serta melaksanakan kegiatan pembangunan di lingkungannya. Implementasi Program Kampung Bahagia berpotensi mendukung peningkatan kualitas lingkungan permukiman walaupun program tersebut tidak secara eksplisit dirancang sebagai program penanganan permukiman kumuh. Kelurahan Legok merupakan salah satu kawasan permukiman kumuh di Kota Jambi yang telah mengimplementasikan Program Kampung Bahagia pada sejumlah RT. Kondisi tersebut menjadi dasar untuk mengkaji sejauh mana implementasi Program Kampung Bahagia mendukung kelayakhunian kawasan permukiman kumuh berdasarkan konsep livable settlement. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi Program Kampung Bahagia dalam mendukung kelayakhunian kawasan permukiman kumuh Kelurahan Legok, Kota Jambi berdasarkan konsep livable settlement. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui studi kasus deskriptif dengan desain studi kasus tunggal. Wilayah penelitian mencakup tujuh RT yang merupakan bagian dari kawasan prioritas penanganan permukiman kumuh serta menjadi pelaksana Program Kampung Bahagia periode pertama. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan informan kunci, observasi, studi dokumen, dan studi literatur. Analisis dilakukan melalui tiga tahapan. Pertama, analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan Logical Framework Approach untuk mengidentifikasi implementasi Program Kampung Bahagia berdasarkan komponen input, activities, output, dan outcome. Kedua, analisis pattern matching untuk membandingkan pola empiris implementasi program denganii pola teoritis indikator livable settlement. Ketiga, analisis isi untuk mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi belum terakomodasinya indikator livable settlement dalam implimentasi program di wilayah penelitian. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa implementasi Program Kampung Bahagia pada kawasan penelitian telah dilaksanakan secara terstruktur melalui siklus pembangunan yang bersifat bottom-up, mulai dari musyawarah kesiapan masyarakat, pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Bahagia, pemetaan swadaya, penyusunan rencana kerja, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan, hingga penyusunan laporan pelaksanaan. Implementasi tersebut juga memenuhi tiga pilar utama implementasi program, yaitu, organization, interpretation, dan application. Program ini didukung oleh struktur pelaksana mulai dari pemerintah daerah hingga Kelompok Kerja Bahagia yang sudah di bentuk di tingkat RT, sedangkan pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui pendekatan Swakelola Tipe IV. Hasil pattern matching menunjukkan bahwa dari delapan dimensi livable settlement yang digunakan dalam penelitian, terdapat lima dimensi yang terakomodasi melalui implementasi Program Kampung Bahagia, yaitu jalan lingkungan, persampahan, keamanan dan keselamatan, komunitas, serta ekonomi masyarakat. Hal tersebut berdasarkan dari pengadaan kegiatan seperti rehabilitasi jalan lingkungan, penyediaan sarana pengumpulan sampah, kegiatan yang mendukung keamanan lingkungan, penguatan kegiatan sosial dan komunitas, serta pemberian bantuan terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Temuan tersebut menunjukkan bahwa Program Kampung Bahagia terbukti memberikan dukungan terhadap sebagian besar aspek pembentuk kelayakhunian kawasan permukiman kumuh di Kelurahan Legok. Disamping itu, terdapat tiga dimensi yang belum terakomodasi melalui implementasi Program Kampung Bahagia di wilayah penelitian ini, yaitu dimensi drainase lingkungan, air bersih, dan air limbah. Pada dimensi drainase lingkungan tidak ditemukan usulan maupun realisasi kegiatan pembangunan atau peningkatan kualitas saluran drainase. Pada dimensi air bersih, pengadaan drum air dan selang belum dapat dikategorikan sebagai pemenuhan pelayanan air bersih karena hanya berfungsi sebagai alat bantu kegiatan sosial. Adapun pada dimensi air limbah tidak ditemukan kegiatan terkait penyediaan maupun peningkatan prasarana sanitasi dan sistem pembuangan air limbah domestik. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa belum terakomodasinya ketiga dimensi tersebut dipengaruhi oleh faktor administratif, faktor finansial, faktor sinergitas program, dan faktor geografis wilayah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Program Kampung Bahagia secara tidak langsung berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kawasan permukiman kumuh menuju kondisi yang lebih layak huni melalui terakomodasinya sebagian besar dimensi kelayakhunian pada penelitian ini. Kebaruan penelitian ini terletak pada identifikasi keterkaitan antara implementasi program pembangunan berbasis masyarakat pada skala RT dengan indikator livable settlement yang memuat aspek-aspek kelayakhunian. Penelitian ini memberikan kontribusi akademis dalam memperkaya kajian mengenai implementasi program pembangunan berbasis masyarakat skala RT dalam mendukung kelayakhunian pemukiman serta kontribusi praktis sebagai masukan bagi Pemerintah Kota Jambi dalam mengoptimalkan Program Kampung Bahagia untuk peningkatan kualitas kawasan permukiman kumuh.