Permukiman kumuh merupakan salah satu permasalahan perkotaan yang berkaitan dengan
rendahnya kualitas lingkungan dan belum terpenuhinya berbagai aspek kelayakhunian
permukiman. Penanganan kawasan permukiman kumuh pada dasarnya tidak hanya diarahkan
pada peningkatan kualitas fisik lingkungan, tetapi juga perlu memperhatikan aspek sosial,
ekonomi, serta keterlibatan masyarakat dalam pembangunan. Salah satu pendekatan yang dapat
mendukung upaya tersebut adalah pembangunan berbasis masyarakat melalui intervensi pada
skala lingkungan. Pemerintah Kota Jambi melaksanakan Program Kampung Bahagia sebagai
program pembangunan berbasis masyarakat yang dilaksanakan pada tingkat Rukun Tetangga
(RT) dengan memberikan ruang kepada masyarakat untuk mengidentifikasi kebutuhan,
menentukan prioritas, serta melaksanakan kegiatan pembangunan di lingkungannya.
Implementasi Program Kampung Bahagia berpotensi mendukung peningkatan kualitas
lingkungan permukiman walaupun program tersebut tidak secara eksplisit dirancang sebagai
program penanganan permukiman kumuh. Kelurahan Legok merupakan salah satu kawasan
permukiman kumuh di Kota Jambi yang telah mengimplementasikan Program Kampung
Bahagia pada sejumlah RT. Kondisi tersebut menjadi dasar untuk mengkaji sejauh mana
implementasi Program Kampung Bahagia mendukung kelayakhunian kawasan permukiman
kumuh berdasarkan konsep livable settlement.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi Program Kampung Bahagia dalam
mendukung kelayakhunian kawasan permukiman kumuh Kelurahan Legok, Kota Jambi
berdasarkan konsep livable settlement. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif
melalui studi kasus deskriptif dengan desain studi kasus tunggal. Wilayah penelitian mencakup
tujuh RT yang merupakan bagian dari kawasan prioritas penanganan permukiman kumuh serta
menjadi pelaksana Program Kampung Bahagia periode pertama. Data diperoleh melalui
wawancara semi-terstruktur dengan informan kunci, observasi, studi dokumen, dan studi
literatur. Analisis dilakukan melalui tiga tahapan. Pertama, analisis deskriptif kualitatif dengan
pendekatan Logical Framework Approach untuk mengidentifikasi implementasi Program
Kampung Bahagia berdasarkan komponen input, activities, output, dan outcome. Kedua,
analisis pattern matching untuk membandingkan pola empiris implementasi program denganii
pola teoritis indikator livable settlement. Ketiga, analisis isi untuk mengidentifikasi faktor yang
mempengaruhi belum terakomodasinya indikator livable settlement dalam implimentasi
program di wilayah penelitian.
Hasil identifikasi menunjukkan bahwa implementasi Program Kampung Bahagia pada
kawasan penelitian telah dilaksanakan secara terstruktur melalui siklus pembangunan yang
bersifat bottom-up, mulai dari musyawarah kesiapan masyarakat, pembentukan Kelompok
Kerja (Pokja) Bahagia, pemetaan swadaya, penyusunan rencana kerja, pelaksanaan dan
pengawasan kegiatan, hingga penyusunan laporan pelaksanaan. Implementasi tersebut juga
memenuhi tiga pilar utama implementasi program, yaitu, organization, interpretation, dan
application. Program ini didukung oleh struktur pelaksana mulai dari pemerintah daerah
hingga Kelompok Kerja Bahagia yang sudah di bentuk di tingkat RT, sedangkan pelaksanaan
kegiatan dilakukan melalui pendekatan Swakelola Tipe IV.
Hasil pattern matching menunjukkan bahwa dari delapan dimensi livable settlement yang
digunakan dalam penelitian, terdapat lima dimensi yang terakomodasi melalui implementasi
Program Kampung Bahagia, yaitu jalan lingkungan, persampahan, keamanan dan keselamatan,
komunitas, serta ekonomi masyarakat. Hal tersebut berdasarkan dari pengadaan kegiatan
seperti rehabilitasi jalan lingkungan, penyediaan sarana pengumpulan sampah, kegiatan yang
mendukung keamanan lingkungan, penguatan kegiatan sosial dan komunitas, serta pemberian
bantuan terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Temuan tersebut menunjukkan bahwa
Program Kampung Bahagia terbukti memberikan dukungan terhadap sebagian besar aspek
pembentuk kelayakhunian kawasan permukiman kumuh di Kelurahan Legok.
Disamping itu, terdapat tiga dimensi yang belum terakomodasi melalui implementasi Program
Kampung Bahagia di wilayah penelitian ini, yaitu dimensi drainase lingkungan, air bersih, dan
air limbah. Pada dimensi drainase lingkungan tidak ditemukan usulan maupun realisasi
kegiatan pembangunan atau peningkatan kualitas saluran drainase. Pada dimensi air bersih,
pengadaan drum air dan selang belum dapat dikategorikan sebagai pemenuhan pelayanan air
bersih karena hanya berfungsi sebagai alat bantu kegiatan sosial. Adapun pada dimensi air
limbah tidak ditemukan kegiatan terkait penyediaan maupun peningkatan prasarana sanitasi
dan sistem pembuangan air limbah domestik. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa belum
terakomodasinya ketiga dimensi tersebut dipengaruhi oleh faktor administratif, faktor
finansial, faktor sinergitas program, dan faktor geografis wilayah.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa Program Kampung Bahagia secara tidak langsung
berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kawasan permukiman kumuh menuju kondisi
yang lebih layak huni melalui terakomodasinya sebagian besar dimensi kelayakhunian pada
penelitian ini. Kebaruan penelitian ini terletak pada identifikasi keterkaitan antara
implementasi program pembangunan berbasis masyarakat pada skala RT dengan indikator
livable settlement yang memuat aspek-aspek kelayakhunian. Penelitian ini memberikan
kontribusi akademis dalam memperkaya kajian mengenai implementasi program
pembangunan berbasis masyarakat skala RT dalam mendukung kelayakhunian pemukiman
serta kontribusi praktis sebagai masukan bagi Pemerintah Kota Jambi dalam mengoptimalkan
Program Kampung Bahagia untuk peningkatan kualitas kawasan permukiman kumuh.
Perpustakaan Digital ITB