digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ASBTRAK Joseph Batara Sibarani
PUBLIC Open In Flipbook Alifah Yusriyah Salsabila

Pencahayaan buatan merupakan faktor penentu hasil biomassa selada merah (Lactuca sativa L.) pada sistem pertanian lingkungan terkontrol. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spektrum high power light emitting diode (HPL) yang optimal dalam meningkatkan akumulasi biomassa dan ekspansi morfologi tanaman. Eksperimen dilakukan menggunakan lima perlakuan spektrum, yaitu P1 (warm white), P2 (pure white), P3 (cool white), P4 (merah:biru 1:1), dan P5 (merah:biru 3:1), dengan total cahaya harian (DLI) konstan sebesar 12,00 mol?m?²?d?¹ untuk memastikan kesetaraan input energi cahaya. Setiap perlakuan diulang dalam empat ruang pertumbuhan dengan posisi yang diacak dalam rancangan acak lengkap (RAL). Parameter yang diamati meliputi bobot basah, bobot kering, luas daun total (TLA), dan luas daun terproyeksi (PLA), dengan analisis statistik menggunakan ANOVA, uji Tukey’s HSD, serta Kruskal–Wallis dan uji Dunn. Hasil menunjukkan bahwa perlakuan P1 menghasilkan biomassa tertinggi secara signifikan dengan bobot basah total 20,48 ± 2,41 g, bobot kering total 1,47 ± 0,26 g, serta ekspansi tajuk maksimum (TLA 414,2 ± 36,65 cm²; PLA 260,72 ± 31,8 cm²), sedangkan perlakuan P4 menunjukkan kinerja terendah dengan bobot basah 7,26 ± 0,15 g. Sementara itu, parameter ketebalan daun, jumlah daun, rasio akar-tajuk (RSR), dan kadar air tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antar perlakuan. Disimpulkan bahwa spektrum warm white merupakan spektrum paling efektif untuk memaksimalkan hasil biomassa dan morfologi selada merah, sedangkan spektrum dengan dominansi cahaya biru cenderung menekan akumulasi biomassa dan ekspansi kanopi pada kondisi penelitian ini. Temuan ini memberikan dasar praktis dalam perancangan resep cahaya pada sistem budidaya dalam ruangan untuk meningkatkan efisiensi produksi.