digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Eko Listiaji
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS) merupakan salah satu fenomena atmosfer skala sinoptik yang berperan penting dalam meningkatkan curah hujan selama musim hujan di wilayah Indonesia. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian sebelumnya masih menggambarkan pengaruh CENS menggunakan analisis komposit rata-rata sehingga belum mampu menjelaskan keragaman respons spasial curah hujan yang terjadi pada setiap kejadian. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi variasi pola spasial anomali curah hujan di Pulau Jawa selama kejadian CENS, menganalisis karakteristik dinamika atmosfer pada setiap pola, serta menjelaskan mekanisme pembentukannya melalui keterkaitan dengan berbagai fenomena atmosfer. Penelitian menggunakan data curah hujan harian MSWEP V3 periode 1979–2025 yang divalidasi terhadap 1.255 stasiun hujan BMKG periode 1991–2025. Kejadian CENS diidentifikasi berdasarkan indeks Cross-Equatorial Northerly Surge, sedangkan fenomena pendukung meliputi Cold Surge (CS), Madden–Julian Oscillation (MJO), Borneo Vortex (BV), Siklon Tropis (TC), dan Equatorial Rossby waves (ER) diidentifikasi menggunakan metode yang telah dipublikasikan sebelumnya. Variasi pola anomali curah hujan dianalisis menggunakan metode K Means Clustering, dengan jumlah cluster optimum ditentukan melalui Elbow Method yang dikombinasikan dengan uji sensitivitas terhadap hasil pengelompokan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons curah hujan pada kejadian CENS dapat dikelompokkan menjadi empat pola spasial utama yang memiliki karakteristik atmosfer berbeda. Cluster 1 ditandai oleh peningkatan curah hujan di Jawa bagian barat hingga utara, Cluster 2 peningkatan curah hujan terkonsentrasi di laut jawa serta distribusi hujan positif yang lebih luas di Pulau Jawa, Cluster 3 memperlihatkan dominasi anomali curah hujan negatif di daratan Jawa akibat pergeseran pusat konvergensi ke Samudra Hindia selatan Jawa, sedangkan Cluster 4 menunjukkan pergeseran pusat hujan menuju Jawa Timur hingga Bali. Analisis komposit tekanan permukaan, angin lapisan bawah, kelembapan spesifik, Moisture Flux, dan Moisture Flux Convergence menunjukkan bahwa perbedaan pola hujan dikendalikan oleh variasi forcing tekanan yang menghasilkan perbedaan lokasi transport dan konvergensi kelembapan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa variasi pola hujan pada kejadian CENS merupakan hasil interaksi dengan fenomena atmosfer laen. Cold Surge berperan sebagai pemicu utama (primary forcing) terbentuknya kejadian CENS, sedangkan fenomena lain bertindak sebagai faktor kontribusi (contributing factors) yang menentukan karakteristik masing-masing pola hujan. Cluster 1 terutama dipengaruhi oleh kombinasi CS dan MJO fase 6–7, Cluster 2 oleh interaksi CS, BV, dan ER, Cluster 3 oleh keberadaan siklon tropis di selatan Indonesia, sedangkan Cluster 4 didominasi oleh MJO fase 4–5. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan K-Means Clustering lebih efektif dibandingkan analisis komposit konvensional dalam mengungkap keragaman respons curah hujan terhadap kejadian CENS. Temuan ini memberikan pemahaman baru mengenai mekanisme pembentukan pola hujan pada kejadian CENS, yaitu bahwa variasi curah hujan di Pulau Jawa tidak dikendalikan oleh satu fenomena atmosfer secara tunggal, melainkan oleh interaksi fenomena atmosfer pada skala sinoptik, regional, dan intramusiman. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengembangan sistem pemantauan dan peringatan dini kejadian hujan ekstrem di Indonesia.