Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS) merupakan salah satu fenomena
atmosfer skala sinoptik yang berperan penting dalam meningkatkan curah hujan
selama musim hujan di wilayah Indonesia. Meskipun demikian, sebagian besar
penelitian sebelumnya masih menggambarkan pengaruh CENS menggunakan
analisis komposit rata-rata sehingga belum mampu menjelaskan keragaman respons
spasial curah hujan yang terjadi pada setiap kejadian. Penelitian ini bertujuan
mengidentifikasi variasi pola spasial anomali curah hujan di Pulau Jawa selama
kejadian CENS, menganalisis karakteristik dinamika atmosfer pada setiap pola,
serta menjelaskan mekanisme pembentukannya melalui keterkaitan dengan
berbagai fenomena atmosfer.
Penelitian menggunakan data curah hujan harian MSWEP V3 periode 1979–2025
yang divalidasi terhadap 1.255 stasiun hujan BMKG periode 1991–2025. Kejadian
CENS diidentifikasi berdasarkan indeks Cross-Equatorial Northerly Surge,
sedangkan fenomena pendukung meliputi Cold Surge (CS), Madden–Julian
Oscillation (MJO), Borneo Vortex (BV), Siklon Tropis (TC), dan Equatorial Rossby
waves (ER) diidentifikasi menggunakan metode yang telah dipublikasikan
sebelumnya. Variasi pola anomali curah hujan dianalisis menggunakan metode K
Means Clustering, dengan jumlah cluster optimum ditentukan melalui Elbow
Method yang dikombinasikan dengan uji sensitivitas terhadap hasil
pengelompokan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons curah hujan pada kejadian CENS
dapat dikelompokkan menjadi empat pola spasial utama yang memiliki
karakteristik atmosfer berbeda. Cluster 1 ditandai oleh peningkatan curah hujan di
Jawa bagian barat hingga utara, Cluster 2 peningkatan curah hujan terkonsentrasi
di laut jawa serta distribusi hujan positif yang lebih luas di Pulau Jawa, Cluster 3
memperlihatkan dominasi anomali curah hujan negatif di daratan Jawa akibat
pergeseran pusat konvergensi ke Samudra Hindia selatan Jawa, sedangkan Cluster
4 menunjukkan pergeseran pusat hujan menuju Jawa Timur hingga Bali. Analisis
komposit tekanan permukaan, angin lapisan bawah, kelembapan spesifik, Moisture
Flux, dan Moisture Flux Convergence menunjukkan bahwa perbedaan pola hujan dikendalikan oleh variasi forcing tekanan yang menghasilkan perbedaan lokasi
transport dan konvergensi kelembapan.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa variasi pola hujan pada kejadian CENS
merupakan hasil interaksi dengan fenomena atmosfer laen. Cold Surge berperan
sebagai pemicu utama (primary forcing) terbentuknya kejadian CENS, sedangkan
fenomena lain bertindak sebagai faktor kontribusi (contributing factors) yang
menentukan karakteristik masing-masing pola hujan. Cluster 1 terutama
dipengaruhi oleh kombinasi CS dan MJO fase 6–7, Cluster 2 oleh interaksi CS, BV,
dan ER, Cluster 3 oleh keberadaan siklon tropis di selatan Indonesia, sedangkan
Cluster 4 didominasi oleh MJO fase 4–5.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan K-Means Clustering lebih efektif
dibandingkan analisis komposit konvensional dalam mengungkap keragaman
respons curah hujan terhadap kejadian CENS. Temuan ini memberikan pemahaman
baru mengenai mekanisme pembentukan pola hujan pada kejadian CENS, yaitu
bahwa variasi curah hujan di Pulau Jawa tidak dikendalikan oleh satu fenomena
atmosfer secara tunggal, melainkan oleh interaksi fenomena atmosfer pada skala
sinoptik, regional, dan intramusiman. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi
dasar dalam pengembangan sistem pemantauan dan peringatan dini kejadian hujan
ekstrem di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB