digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Produksi baja di Indonesia sangat bergantung pada jalur Blast Furnace-Basic Oxygen Furnace yang intensif karbon. Penangkapan, Pemanfaatan, dan Penyimpanan Karbon (CCUS) berfungsi sebagai teknologi penghubung utama untuk dekarbonisasi. Biaya investasi yang tinggi dan kurangnya kebijakan yang kuat menjadi hambatan utama bagi implementasi CCUS skala besar. Studi ini mengeksplorasi kelayakan adopsi CCUS di industri baja Indonesia. Pendekatan SWOT, PESTLE, Real Option Valuation (ROV) dan System Dynamics (SD) terintegrasi digunakan untuk menganalisis 3 skenario implementasi CCUS: penyimpanan karbon murni, peningkatan perolehan minyak (EOR), dan produksi soda ash. Model keuangan statis menunjukkan bahwa ketiga skenario tersebut menghasilkan nilai sekarang bersih (NPV) negatif dalam kondisi pasar Indonesia saat ini. Dengan menggunakan kerangka kerja ROV, penulis menemukan bahwa pemanfaatan CCUS untuk memproduksi soda ash menghasilkan nilai sekarang bersih yang diperluas (ENPV) sebesar US$ 81,40 juta. Pemanfaatan EOR menjadi rasional dengan harga karbon sebesar 13,23 US$/tCO2, atau premi baja hijau sebesar 70,10 US$/t-baja, atau hibah CAPEX sebesar 41,88%. Model SD menunjukkan bahwa keberhasilan proyek bergantung pada sejumlah proses umpan balik. Agar layak secara komersial, kombinasi harga karbon, premi baja hijau, dan subsidi pemerintah sangat diperlukan. Pemanfaatan soda ash merupakan skenario terbaik untuk CCUS dalam strategi implementasi jangka pendek. Penyimpanan karbon murni hanya boleh dipertimbangkan dalam perspektif jangka panjang dan membutuhkan adanya harga karbon yang melebihi 56,11 US$/tCO2.