Lapangan Panas Bumi Ulumbu merupakan salah satu lapangan panas bumi yang diklasifikasikan sebagai lapangan panas bumi dominasi air, entalpi tinggi dengan temperatur berkisar 230?240°C. PT PLN sebagai pengelola Lapangan Panas Bumi Ulumbu mengoperasikan PLTP berkapasitas 4×2,5 MW, yang memanfaatkan dua jenis turbin uap: condensing (2×2,5 MW) dan back pressure (2×2,5 MW). Uap sisa dari turbin back pressure memiliki temperatur sekitar 98 – 105°C, dengan laju alir uap maksimum sekitar 62 ton per jam. Uap sisa yang dihasilkan back pressure masih memiliki entalpi yang cukup tinggi dikarenakan masih dalam fasa uap. Hal ini menunjukkan bahwa sisa uap dapat dimanfaatkan lebih lanjut baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aspek teknis dan keekonomian dari pemanfaatan sisa uap exhaust steam unit back pressure untuk pembangkit ORC (Organic Rankine Cycle). Aspek teknis berfokus untuk menentukan daya optimum yang mampu dihasilkan dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti kondisi operasi, fluida kerja, kondisi uap sisa, dan temperatur lingkungan.
Penelitian ini menggunakan ASPEN HYSYS sebagai perangkat simulasi. Sistem ORC yang disimulasikan terdiri dari pre-heater, evaporator, expander, recuperator, pendingin udara dan pompa, dengan pentana (n-pentane) sebagai fluida kerja. Hasil simulasi menunjukkan bahwa sistem ini dapat menghasilkan daya sekitar 3,54 MW dengan efisiensi termal 10,95%. Estimasi biaya pengembangan proyek ini sekitar 5,58 juta USD/MW, dengan nilai IRR sebesar -6,6% dan NPV sebesar -16,12 juta USD dengan asumsi nilai tarif 11,7 sen/kWh untuk 10 tahun pertama dan 8,3 sen/kWh untuk 20 tahun berikutnya, sesuai ketentuan tarif Pemerintah Indonesia untuk wilayah Nusa Tenggara.
Berdasarkan hasil tersebut, proyek ini dinilai tidak layak secara keekonomian pada kondisi tarif yang berlaku. Namun demikian, biaya proyek ini masih lebih rendah dibandingkan biaya bahan bakar pembangkit diesel yang harus dikeluarkan dalam waktu 30 tahun sebagai avoided cost sebesar 125,3 juta USD.
Perpustakaan Digital ITB