ABSTRAK Nurul Ayu Chairunnisa
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
COVER Nurul Ayu Chairunnisa
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Nurul Ayu Chairunnisa
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Nurul Ayu Chairunnisa
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Nurul Ayu Chairunnisa
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Nurul Ayu Chairunnisa
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Nurul Ayu Chairunnisa
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA Nurul Ayu Chairunnisa
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Serat karbon adalah serat berperforma tinggi yang permintaannya diproyeksikan
meningkat, terutama industri yang membutuhkan lightweight materials. Dalam proses
pembuatannya, pembuatan serat prekursor menjadi komponen biaya terbesar, mencapai
53,4% dari total produksi. Lignin, polimer hayati aromatik terbanyak kedua di dunia,
berpotensi menjadi prekursor serat karbon berbasis biomassa karena carbon yield tinggi
hingga 42%. Penelitian ini memanfaatkan lignin hasil pengolahan limbah black liquor
sebagai bahan dasar, dengan penambahan polimer PVA dan selulosa untuk meningkatkan
spinnability.
Serat prekursor dibuat dengan metode wet spinning menggunakan variasi konsentrasi
blending polimer 40%, 50%, 60%, dan 70%. Karakterisasi yang dilakukan meliputi elemental
analyzer, TGA, FTIR, citra SEM, dan uji tarik untuk mengevaluasi sifat termal, mekanik,
dan gugus fungsi. Hasil menunjukkan, PVA maupun selulosa meningkatkan spinnability,
dengan komposisi optimal pada 50% blending: kadar karbon 54% (PVA/lignin) dan 48%
(selulosa/lignin).
Stabilisasi hanya dilakukan pada serat lignin/PVA karena kadar karbonnya lebih
tinggi. Variasi stabilisasi meliputi temperatur 175 °C, 225 °C, dan 275 °C, serta durasi
penahanan 1 dan 3 jam. Karakterisasi pasca stabilisasi (elemental analyzer, TGA, FTIR, dan
SEM) menunjukkan siklisasi pada 275 °C selama 3 jam, menghasilkan carbon yield 46,62%.
Namun, morfologi serat menunjukkan micro crack di permukaan. Dengan optimasi lanjutan
pada parameter stabilisasi untuk meningkatkan kualitas pada serat PVA/lignin, pendekatan
ini berpotensi dikembangkan secara skala industri untuk menghasilkan serat karbon berbasis
biomassa yang ekonomis dan ramah lingkungan.
Perpustakaan Digital ITB