Kota Jambi sebagai ibukota Provinsi Jambi memiliki peran strategis sebagai pusat pemerintahab, perdagangan, dan jasa. Namun, hingga saat ini permasalahan banjir masih sering terjadi dan menimbulkan dampak signifikan terhadap masyarakat serta infrastruktur publik. Salah satu penyebab utama banjir adalah menurunnya kapasitas Sungai Asam yang melintasi kawasan perkotaan. Kondisi tersebut di perparah oleh morfologi Sungai Asam yang berkelok, penyempitan penampang akibat pemukiman di bantaran sungai, serta fluktuasi muka air di Sungai Batanghari yang merupakan outlet dari Sungai Asam yang dapat menghambat aliran banjir dari hulu. Untuk mengurangi dampak banjir yang terjadi Kementerian PU melalui Balai Wilayah Sungai Sumatera VI Jambi melakukan penanganan berupa pembangunan dan revitaliasi darinase utama Kota Jambi dengan melaksanakan normaliasi sungai, perlindungan tepi sungai (revetment) dan rehabilitasi pompa. Penelitian ini menganalisis penanganan banjir tersebut dalam mereduksi genangan banjir dan pengaruhnya terhadap perubahan morfologi dasar sungai. Kajian dilakukan pada Sungai Asam sepanjang 12,04 km. Analisis hidrologi menggunakan HEC-HMS dengan metode HSS SCS-CN. Analisis Hidraulika berupa permodelam banjir menggunakan HEC-RAS 1D untuk memperoleh profil muka air dan HEC-RAS 2D untuk memperoleh luas genangan dan lokasi banjir, sedangkan pemodelan sedimen menggunakan HEC-RAS 1D untuk mengetahui perubahan morfologi dasar sungai. Hasil analisis hidrologi diperoleh debit banjir recana kala ulang 25 tahun sebesar 141,70 m3/s. Hasil pemodelan banjir menggunakan HEC-RAS 1D dengan Q25 pada kondisi eksisting menunjukan kapasitas Sungai Asam belum mampu menampung debit banjir dengan luapan terjadi sepanjang sungai dengan ketinggian ±0,30 – 2,00 m, sedangkan pada kondisi penanganan berupa normaliasasi dan revetment terdapat segmen yang tidak terjadi luapan banjir yaitu pada segmen 1 dan segmen 2, sedangkan pada segmen 3, segmen 4 dan segmen 5 masih terdapat lupan banjir setinggi ±0,30 – 1,80 m. Hasil pemodelan banjir menggunakan HEC-RAS 2D dengan debit Q25 diperoleh luas dan genangan banjir berturut-turut pada kondisi eksisting seluas 117,78 Ha; pada kondisi rencana penanganan berupa normalisasi dan revetment seluas 39,45 Ha dengan reduksi sebesar 66,51%; serta pada kondisi usulan pengananan berupa kolam retensi dan parapet seluas 23.47 Ha dengan reduksi sebesar 80.07%. Hasil simulasi menggunakan HEC-RAS 2D juga menunjukan bahwa 6 unit pompa dengan total kapasitas 15 m3/s belum mampu mencegah terjadinya luapan di stasiun pompa asam pada kondisi muka air Sungai Batanghari lebih tingg dari pada muka air banjir di Sungai Asam, tetapi usulan
pengendalian banjir berupa kolam retensi dan parepet dapat menunda kedatangan banjir dan mepercepat proses surutnya lupaan ditunjukan dengan penurunan durasi surut pada kondisi eksisting semula 19 jam menjadi 14 jam 30 menit. Hasil pemodelan sedimen menggunakan HEC-RAS 1D dengan debit rerata bulanan selama satu tahun menunjukan pada kondisi eksisting perubahan morfologi dasar Sungai Asam relatif seimbang sepanjang sungai dengan agradasi sebesar ±216,53 m³/tahun dan degradasi sebesar ±191,36 m³/tahun, pada kondisi rencana penanganan berupa normalisasi dan revetment terjadi penurunan agradasi menjadi 83,43 m3/tahun serta perubahan morfologi dasar Sungai dari sebelumnya relatif seimbang menjadi lebih terlokaliasi dengan total degradasi sebesar ±187,09 m3/tahun terutama pada bagian hilir sungai, pada kondisi usulan penanganan berupa kolam retensi dan parapet terjadi penurunan degradasi menjadi ±145,19 m3/tahun dan agrdasi menjadi 79,45 m3/tahun, dimana keberadaan kolam retensi menyebabkan perubahan pola dasar sungai, dengan agradasi di bagian hulu kolam retensi dan degradasi di hilir, sedangkan pada kondisi penangan berupa normalisasi dan revetment menggunakn debit banjir Q25 perubahan morfologi dasar sungai didominasi oleh degrdasi dengan total sebesar 20,02 m3/hari dan agradasi sebesar 4,32 m3/hari.
Perpustakaan Digital ITB