Bencana gempa bumi berkekuatan 7,4SR yang terjadi pada 28 September 2018 di Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah tidak hanya menimbulkan dampak langsung berupa kerusakan infrastruktur, tetapi juga memberikan pengaruh terhadap kondisi geoteknik di daerah hulu sungai, termasuk di Sungai Saluki. Gempa mengganggu stabilitas tanah di hulu Sungai Saluki sehingga mudah tererosi pada saat hujan. 30% wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Saluki terdiri dari material yang tidak stabil sehingga sangat rentan terhadap aliran debris pada saat terjadi hujan. Fenomena ini akan berkontribusi terhadap peningkatan beban sedimen yang terbawa aliran permukaan menuju Sungai Saluki, dan akan mempengaruhi fungsi bendung dan intake air baku yang baru selesai dibangun pada Tahun 2024 sebagai bentuk upaya rehabilitasi rekonstruksi pasca bencana yang berfungsi untuk menyediakan air baku bagi Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Donggala. Upaya penanganan pengendalian sedimen yang telah dilakukan adalah pembangunan 1 unit sabodam di hulu Bendung Saluki.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kapasitas Sungai Saluki dalam menerima dan mengalirkan aliran debris, menganalisis perubahan morfologi Sungai Saluki akibat adanya bangunan pengendali sedimen, dan menganalisis kapasitas dan kinerja penangkapan sedimen oleh sabodam di Sungai Saluki. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan pemodelan aliran debris dan pemodelan sedimentasi menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 1 Dimensi. Pemodelan aliran debris menggunakan parameter Non-Newtonian Bingham dengan debit banjir rencana Q2 dan Q100. Pemodelan sedimentasi dilakukan dengan kondisi debit harian satu tahun dan kondisi Q100.
Berdasarkan hasil pemodelan aliran debris, dengan adanya sabodam tidak mempengaruhi tinggi muka air secara signifikan. Sungai Saluki mampu mengalirkan aliran debris hingga Q100. Hasil pemodelan sedimentasi kondisi debit harian satu tahun menunjukan agradasi sungai pada area yang terpengaruh bangunan sabodam, dan degradasi pada hilir Bendung Saluki. Hasil pemodelan sedimentasi kondisi Q100, terjadi agradasi pada area terpengaruh bangunan sabodam pada area hilir tidak terjadi perubahan morfologi sungai yang signifikan.
Pada Skema 2 (Sabodam 1) kondisi debit harian, diperoleh umur layan (kapasitas) Sabodam 1 = 1 tahun, dengan kinerja penangkapan sedimen mencapai 27,91%, serta terjadi pengurangan pada area bendung sebesar 82,17%. Kondisi debit Q100, kinerja penangkapan sedimen mencapai 16,58% dan pengurangan sedimen pada area bendung sebesar 75,12%. Pada Skema 3 (Sabodam 1, Sabodam 2, dan Sabodam 3) kondisi debit harian diperoleh umur layan (kapasitas) Sabodam 1 = 19, Sabodam 2 = 4 tahun, dan Sabodam 3 = 4 tahun, dengan kinerja penangkapan sedimen secara total mencapai 35,35%, serta terjadi pengurangan pada area bendung sebesar 92,30%. Kondisi debit Q100, kinerja penangkapan sedimen secara total mencapai 68,54% dan pengurangan sedimen pada area bendung sebesar 100%.
Perpustakaan Digital ITB