digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sungai Cijangkelok merupakan salah satu anak Sungai Cisanggarung yang berada di wilayah hulu. Sungai Cijangkelok melewati dua wilayah administrasi yaitu Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon. Banjir akibat luapan Sungai Cijangkelok merupakan salah satu masalah yang sering terjadi khususnya di Desa Cibingbin. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis upaya pengendalian banjir yang paling optimal serta menganalisis perubahan morfologi sungai Cijangkelok akibat upaya pengendalian banjir yang diusulkan. Analisis utama yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu analisis hidroplogi, hidraulika dan morfologi sungai. Analisis hidrologi dilakukan untuk menentukan debit banjir desain rencana dan debit harian. Debit banjir dihitung pada periode ulang 25 tahunan (Q25) dan 50 tahunan (Q50) yang kemudian akan menjadi input dalam simulasi banjir sedangkan debit harian dianalisis dengan metode Sacramento yang akan menjadi input pada simulasi sedimen. Pemilihan Debit Banjir Q25 mempertimbangkan desain penanganan yang dilakukan, sementara Q50 merupakan debit banjir yang pernah terjadi. Kalibrasi debit banjir dilakukan dengan membandingkan debit simulasi Hec-HMS dengan debit banjir pada Pos Duga Air (PDA) Cibendung, begitu juga dengan debit harian Sacramento. Simulasi banjir dan sedimen dilakukan dengan menggunakan program HEC-RAS versi 6.3. Kalibrasi model sedimen dilakukan dengan membandingkan data pengukuran di waktu yang berbeda. Debit banjir Q25 dan Q50 sungai Cijangkelok adalah sebesar 291,7 m3/detik dan 326,10 m3/detik. Pada kondisi eksisting Sungai Cijangkelok tidak mampu menampung dan mengalirkan debit kala ulang 25 dan 50 tahun. Pada kala ulang 25 tahun, terjadi limpasan dengan tinggi rata-rata 0,51 meter dan luas genangan 29,62 hektar. Sementara pada kala ulang 50 tahun terjadi limpasan dengan tinggi rata-rata 0,72 meter dan luas genangan 32,65 hektar. Kondisi ini telah divalidasi kesesuaiannya dengan kondisi banjir yang pernah terjadi. Dengan penanganan berupa normalisasi dan tanggul, tidak terjadi limpasan baik debit banjir kala 25 dan 50 tahun, namun akibat adanya segmen penyempitan yang mengakibatkan berkurangnya kapasitas sungai sehingga terjadi kenaikan elevasi muka air banjir pada segmen ini, serta diikuti dengan peningkatan kecepatan aliran. Kondisi ini dapat menimbulkan permasalahan lain kedepannya. Penanganan lain yang dapat dilakukan berupa penambahan groundsill maupun melakukan pembebasan lahan pada segmen penyempitan. Kedua alternatif penanganan ini menghasilkan elevasi muka air banjir dan kecepatan aliran yang lebih stabil. Secara keseluruhan, pada kondisi 1, 2, dan 3, tidak terjadi limpasan atau banjir dari Sungai Cijangkelok ke Desa Cibingbin, tereduksi 100%. Pada kondisi debit banjir Q50 terjadi degradasi pada ke-empat kondisi, dengan volume degradasi pada kondisi 0 (eksisting) sebesar 1.079 ton, kondisi 2 (tanggul dan normalisasi) sebesar 1.844 ton, kondisi 3 (tanggul perkuatan, normalisasi, dan groundsill) sebesar 316 ton, serta kondisi 4 (tanggul dan normalisasi dengan pembebasan lahan) sebesar 561 ton. Kondisi 3 dan 4 cukup optimal dalam mengurangi degradasi pada pada segmen penyempitan. Pada kondisi harian selama 1 tahun terjadi sedimentasi pada ke-empat kondisi, dengan sedimen tertahan pada kondisi 0 (eksisting) sebesar 1.561 ton/tahun, kondisi 1 (tanggul dan normalisasi) sebesar 2.403 ton/tahun, kondisi 2 (tanggul perkuatan, normalisasi dan groundsill) sebesar 15.388 ton/tahun, serta kondisi 3 (tanggul dan normalisasi dengan pembebasan lahan) sebesar 2.608 ton/tahun. Setelah dilakukan normalisasi, cenderung terjadi peningkatan sedimentasi karena sedimen membentuk kesetimbangan baru. Sedimen tertahan terbesar pada kondisi 2 karena sedimen tertahan di hulu groundsill dimana dalam kurun waktu 1 tahun, 2 groundsill sudah dipenuhi sedimen.