digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Aktivitas Pemeliharaan Besar (PB) di industri minyak dan gas bumi melibatkan intensitas kerja tinggi, jam kerja panjang, dan paparan lingkungan berat dalam tenggat waktu ketat. Namun demikian, PT XYZ belum memiliki kajian kelelahan kerja yang komprehensif pada periode PB, sehingga risiko kelelahan pekerja belum dapat diidentifikasi dan dikendalikan secara sistematis. Penelitian ini bertujuan merancang strategi pengendalian kelelahan kerja bagi pekerja fungsi produksi dan nonproduksi aktivitas PB PT XYZ berdasarkan hasil penilaian risiko dan pengukuran tingkat kelelahan aktual secara multidimensi. Pengukuran kelelahan dilaksanakan selama periode puncak PB pada Mei 2026 menggunakan pendekatan multidimensi yang mengintegrasikan instrumen objektif dan subjektif, yaitu Psychomotor Vigilance Task (PVT), blink duration (BD), aktigrafi (smartwatch), Karolinska Sleepiness Scale (KSS), dan Visual Analog Scale (VAS), serta pemodelan FAID berdasarkan data jadwal kerja aktual. Data diolah menggunakan analisis deskriptif, uji beda (Paired t-Test, Wilcoxon), korelasi (Pearson, Spearman), dan uji banding antarkelompok (Independent Samples t-Test, Mann–Whitney U). Strategi pengendalian dirancang mengacu pada Fatigue Risk Control Model (FRCM) dengan standar acuan ANSI/API RP 755 dan ISO 45001:2018. Hasil pemodelan FAID menunjukkan 81% hari kerja selama PB berada pada kategori Severely Fatigued, dengan skor FAID persentil ke-98 mencapai 91 — setara kondisi terjaga lebih dari 24 jam berturut-turut. Temuan ini dikonfirmasi oleh peningkatan signifikan skor KSS dan VAS pasca-kerja, peningkatan variabilitas waktu reaksi, serta mayoritas pekerja yang blink duration-nya sudah berkategori mengantuk sebelum bekerja. Defisit tidur juga teridentifikasi, dengan rerata durasi tidur aktigrafi fungsi produksi sebesar 5,83 jam, di bawah rekomendasi 7 jam. Berdasarkan profil ini, dirancang strategi pengendalian tiga level mengacu FRCM: Level 1 (fatigue mitigation: manpower planning berbasis risiko, work design per fungsi, perbaikan fasilitas camp, monitoring tidur), Level 2 (deteksi dini: program pengukuran dan dashboard PVT-KSS), dan Level 3 (respons insiden: protokol intervensi dan jalur pelaporan). Analisis kelayakan finansial menunjukkan NPV positif dan BCR di atas satu pada kedua usulan investasi utama. Penelitian selanjutnya disarankan mengembangkan model FRMS yang mencakup seluruh siklus PB dengan populasi pekerja mitra yang lebih besar dan durasi pengambilan data lebih panjang.