digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Suatu pelabelan titik pada graf dikatakan istimewa jika satu-satunya automorfisma yang mengawetkan pelabelan tersebut hanyalah identitas. Bilangan istimewa (distinguishing number) dari graf G adalah nilai terkecil m sedemikian hingga G memiliki pelabelan?m istimewa, dilambangkan dengan D(G). Untuk suatu partisi?k berurutan ? = {S1, S2, ..., Sk} dari V (G), representasi r(v|?) dari titik v terhadap ? adalah (d(v, S1), ..., d(v, Sk)), di mana d(v, S) = min{d(v, x)|x ? S}. Partisi ? tersebut merupakan partisi pembeda dari G bila semua vektor r(v|?) berbeda untuk semua v ? G. Nilai terkecil k di mana terdapat partisi pembeda dengan k kelas partisi dari graf G dinamakan dimensi partisi G, dilambangkan dengan pd(G). Partisi V (G) menjadi k kelas partisi dapat dipandang sebagai pelabelan setiap titik di V (G) ke {1, 2, ..., k}. Pelabelan istimewa yang ditemukan pada tahun 1996 dan partisi pembeda yang ditemukan pada tahun 2000 merupakan dua aturan pelabelan titik yang menarik minat para peneliti di bidang teori graf selama lebih dari 2 dekade. Berdasarkan definisinya, pelabelan istimewa didasarkan atas automorfisma titik, yang mana sifat automorfisma adalah mempertahankan ketetanggaan dari setiap titik yang dipetakan. Diperhatikan bahwa ketetanggaan titik berkaitan erat dengan jarak antar titik pada graf yang merupakan parameter dasar dalam menentukan partisi pembeda suatu graf. Oleh karena itu, cukup masuk akal bila kita menduga terdapat kaitan erat antara dua aturan pelabelan titik tersebut, sesuatu yang belum pernah diteliti hingga saat ini. Baik bilangan istimewa maupun dimensi partisi untuk beberapa kelas graf telah ditemukan. Di antaranya, graf siklus, graf lintasan, graf lengkap, graf Petersen, graf hypercube, graf bintang, graf bipartit lengkap, graf roda (batas atas dan bawah) , graf pohon ulat, pohon firecrackers, subdivisi pohon, dan beberapa struktur pohon lainnya. Namun demikian, hingga saat ini belum ada penelitian yang mengkaji kaitan antara kedua parameter tersebut. Bila kaitan tersebut diketahui, maka pengetahuan mengenai dimensi partisi suatu kelas graf dapat digunakan untuk mencari nilai bilangan istimewa dari kelas graf tersebut, dan sebaliknya. Penelitian disertasi ini akan memberi fokus perhatian pada kaitan dari kedua parameter graf tersebut. Secara lebih spesifik, penelitian disertasi ini berfokus pada kaitan umum dan kaitan khusus antara bilangan istimewa dan dimensi partisi graf sederhana terhubung. Kami berhasil menunjukkan bahwa untuk setiap graf G dimensi partisi merupakan batas atas bagi bilangan istimewa, yaitu D(G) ? pd(G). Kami juga menemukan beberapa kelas graf yang memenuhi D(G) = pd(G), di antaranya Pn, K1,n, Kn, Kn,n, graf bintang ganda Sm,n, dan Cn. Dengan menggunakan pengetahuan mengenai karakterisasi graf berorde n dan dimensi partisi n ? 1 atau n ? 2, kami berhasil mendapatkan beberapa kelas graf yang memenuhi pd(G) ? D(G) = 1 dan pd(G) ? D(G) = 2. Selisih antara dimensi partisi dan bilangan istimewa ini bisa menjadi sangat jauh, yang dapat dilihat contohnya pada graf theta umum dan juga graf roda. Sifat dimensi partisi terkait banyaknya titik kembar ternyata juga dimiliki oleh bilangan istimewa. Selain relasi umum antara dua pelabelan itu, dalam disertasi ini kami juga membahas pelabelan istimewa untuk kelas graf terhubung yang tidak memuat cycle, yaitu graf pohon. Bilangan istimewa maupun dimensi partisi untuk sebarang pohon hingga saat ini belum diketahui. Dalam penelitian ini kami mengkaji pohon berjari-jari 1 dan 2 dengan memperkenalkan notasi tuple. Dengan menggunakan notasi tersebut, dapat ditentukan bilangan istimewa setiap pohon dengan radius tidak melebihi 2. Kami menunjukkan bahwa untuk setiap bilangan bulat positif d, dapat dilakukan karakterisasi semua graf pohon T dengan rad(T) ? 2 dan bilangan istimewa d.