Resistensi bakteri pada infeksi luka kronis diabetes yang diperburuk oleh pembentukan biofilm
polimikroba menjadi tantangan utama dalam terapi antimikroba, sehingga diperlukan alternatif agen
antibakteri dan antibiofilm berbasis bahan alam. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi aktivitas
antibakteri dan antibiofilm postbiotik yang dihasilkan oleh Bakteri Asam Laktat (BAL) asal Mandai
terhadap Acinetobacter baumannii, Klebsiella pneumoniae, serta ko-kultur (1:1) kedua bakteri tersebut.
Isolasi BAL dilakukan menggunakan media MRS agar yang mengandung 1% CaCO? sebagai indikator
aktivitas asam. Isolat kemudian dikarakterisasi melalui uji Gram, katalase, hemolisis, dan kepekaan
antibiotik, serta diidentifikasi secara genotipik menggunakan sekuensing gen 16S rRNA. Aktivitas
antibakteri dievaluasi melalui penentuan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dan Konsentrasi
Bacterisidal Minimum (KBM), sedangkan aktivitas antibiofilm ditentukan melalui penentuan inhibisi dan
eradikasi biofilm menggunakan metode kristal violet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh
postbiotik memiliki aktivitas antibakteri dan antibiofilm yang bergantung pada konsentrasi. Isolat M2-2
dan M2-5 menunjukkan aktivitas inhibisi dan eradikasi biofilm yang paling konsisten pada model
monokultur maupun ko-kultur, sedangkan isolat M2-8 memperlihatkan aktivitas eradikasi biofilm ko?kultur tertinggi pada konsentrasi maksimum. Berdasarkan identifikasi gen 16S rRNA, isolat unggulan
teridentifikasi sebagai Lactiplantibacillus plantarum dan Lactiplantibacillus pentosus. Seluruh isolat
menunjukkan profil keamanan yang baik berdasarkan uji hemolisis serta karakteristik kepekaan
antibiotik yang mendukung potensinya sebagai kandidat agen antibiofilm topikal. Secara keseluruhan,
postbiotik BAL asal Mandai berpotensi dikembangkan sebagai agen antibiofilm topikal untuk terapi
infeksi luka kronis polimikroba.
Perpustakaan Digital ITB