digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Desalinasi air laut merupakan proses pemurnian air dari kandungan garam terlarut untuk mengatasi ketersediaan air bersih. Teknologi membran distilasi (MD) dengan tingkat rejeksi 100% dikembangkan sebagai alternatif proses desalinasi. Penggunaan MD rentan terjadi fouling yang dapat menyebabkan wetting, sehingga memicu penurunan fluks, peningkatan konduktivitas, dan berpotensi mengurangi masa pakai membran. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi dan frekuensi dosing optimum SNP sebagai zat donor NO, untuk menangani pembentukan biofilm pada MD. Percobaan dilakukan dengan variasi akumulasi konsentrasi SNP sebesar 3000 ?M dan 6000 ?M yang ditambahkan setiap 6, 12, dan 24 jam pada operasi DCMD secara kontinu, umpan air laut sintetis, dan Pseudomonas aeruginosa sebagai mikroba pembentuk biofilm. Konsentrasi SNP 6000 ?M menunjukkan performa inhibisi biofilm yang lebih optimal dibandingkan 3000 ?M. Tren fluks cenderung fluktuatif namun stabil pada rentang tertentu, dimana pada SNP 6000 ?M, variasi dosing 6, 12, dan 24 jam menghasilkan rata-rata fluks berturut-turut 5,60; 5,76; dan 5,48 L/m².jam, serta rata-rata konduktivitas permeat 14,60; 15,70; dan 11,45 ?S/cm. Penambahan SNP setiap 24 jam pada konsentrasi 6000 ?M paling efektif memperlambat gradien wetting yang kumulatif dan ireversibel. Analisis statistik mengonfirmasi bahwa seluruh variasi 6000 ?M signifikan dalam menjaga fluks dan menekan konduktivitas terhadap kontrol positif. Hasil uji Griess Assay variasi dosing 24 jam menghasilkan puncak konsentrasi NO tertinggi dan bertahan paling lama setelah dosing (sustained release), sehingga mampu mengurangi bakteri viabel hingga 10,12 log CFU/cm² pada uji TPC. Hasil ini divalidasi oleh karakterisasi SEM yang menunjukkan minimnya residu biofilm dan penetrasi garam lebih jauh ke dalam pori membran.