Desalinasi air laut merupakan proses pemurnian air dari kandungan garam terlarut untuk
mengatasi ketersediaan air bersih. Teknologi membran distilasi (MD) dengan tingkat
rejeksi 100% dikembangkan sebagai alternatif proses desalinasi. Penggunaan MD rentan
terjadi fouling yang dapat menyebabkan wetting, sehingga memicu penurunan fluks,
peningkatan konduktivitas, dan berpotensi mengurangi masa pakai membran. Penelitian
ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi dan frekuensi dosing optimum SNP sebagai
zat donor NO, untuk menangani pembentukan biofilm pada MD. Percobaan dilakukan
dengan variasi akumulasi konsentrasi SNP sebesar 3000 ?M dan 6000 ?M yang
ditambahkan setiap 6, 12, dan 24 jam pada operasi DCMD secara kontinu, umpan air laut
sintetis, dan Pseudomonas aeruginosa sebagai mikroba pembentuk biofilm. Konsentrasi
SNP 6000 ?M menunjukkan performa inhibisi biofilm yang lebih optimal dibandingkan
3000 ?M. Tren fluks cenderung fluktuatif namun stabil pada rentang tertentu, dimana
pada SNP 6000 ?M, variasi dosing 6, 12, dan 24 jam menghasilkan rata-rata fluks
berturut-turut 5,60; 5,76; dan 5,48 L/m².jam, serta rata-rata konduktivitas permeat 14,60;
15,70; dan 11,45 ?S/cm. Penambahan SNP setiap 24 jam pada konsentrasi 6000 ?M
paling efektif memperlambat gradien wetting yang kumulatif dan ireversibel. Analisis
statistik mengonfirmasi bahwa seluruh variasi 6000 ?M signifikan dalam menjaga fluks
dan menekan konduktivitas terhadap kontrol positif. Hasil uji Griess Assay variasi dosing
24 jam menghasilkan puncak konsentrasi NO tertinggi dan bertahan paling lama setelah
dosing (sustained release), sehingga mampu mengurangi bakteri viabel hingga 10,12 log
CFU/cm² pada uji TPC. Hasil ini divalidasi oleh karakterisasi SEM yang menunjukkan
minimnya residu biofilm dan penetrasi garam lebih jauh ke dalam pori membran.
Perpustakaan Digital ITB