digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Bayu Putra Pratama [27024006]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

Berakar pada penelusuran artistik mengenai paradoks materialitas di era kontemporer saat ini. Arus informasi yang masif dalam kebudayaan digital membuat data kehilangan sandaran fisiknya, sehingga memicu krisis indrawi manusia modern yang terjebak dalam ambivalensi hibrid antara ruang nyata dan ruang virtual. Kondisi ini melahirkan urgensi kultural untuk melakukan objektivasi terhadap entitas imaterial—seperti frekuensi, vibrasi, dan gelombang—menjadi wujud rupa yang menetap. Proyek penciptaan ini disusun melalui struktur metodologi hibrida lintas disiplin yang mengintegrasikan pilar Vibrasi sebagai representasi sains melalui penelusuran sembilan Healing Frequencies (Hz), pilar Formasi sebagai ranah materialitas medium melalui intervensi konversi kimia patina serta teknik goresan langsung; dan pilar Ilusi sebagai konstruksi geometrismatematis berbasis struktur Grids menggunakan sudut kelipatan 18° dan akar numerik sembilan. Secara teoretis, penciptaan ini bersinggungan pada teori kebudayaan digital Nicholas Negroponte, konsep memori Henri Bergson, perluasan spasial Rosalind Krauss, pendekatan fenomenologi Maurice Merleau-Ponty. Sinergi antar-teori ini digunakan untuk menjembatani ketegangan antara objektivitas hukum fisika yang matematis dan subjektivitas batin kesadaran spiritual yang dinamis. Hasil akhir penciptaan karya terwujud dalam instalasi sembilan panel dengan bentang total horizontal mencapai 484 cm, yang memanfaatkan jarak untuk memicu interaksi optik dinamis dengan pantulan cahaya ruangan. Melalui integrasi seni dan fisika ini, medium plat aluminium bertindak sebagai subjek aktif "kehidupan" yang melambangkan ketangguhan eksistensial. Setiap goresan yang tertoreh secara manual bertindak sebagai representasi irreversible dari cara manusia menghadapi realitas secara nyata dan langsung, sedangkan vibrasi batin hadir sebagai kendali kesadaran diri. Karya ini pada akhirnya berhasil mematerialisasikan kesadaran imaterial ke dalam wujud visual statis yang seolah kembali "bergerak aktif" ketika dilihat, serta berdiri sebagai instrumen refleksi personal sekaligus subversi puitis yang mengembalikan bobot pengalaman indrawi manusia terhadap kefanaan dunia virtual yang serba instan.