ABSTRAK Zahran Rayssal Ghaza
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Zahran Rayssal Ghaza
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Zahran Rayssal Ghaza
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Zahran Rayssal Ghaza
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Zahran Rayssal Ghaza
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Zahran Rayssal Ghaza
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Zahran Rayssal Ghaza
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Zahran Rayssal Ghaza
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Zahran Rayssal Ghaza
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Kawasan Sentra Industri Sepatu Cibaduyut di Kota Bandung merupakan salah
satu sentra industri rakyat yang mengalami transformasi spasial dan ekonomi
signifikan dalam dua dekade terakhir. Sebelum pandemi COVID-19, kawasan ini
menunjukkan gejala gentrifikasi yang berlangsung dalam tiga bentuk, yaitu
state-led gentrification melalui revitalisasi infrastruktur berbasis kebijakan
pemerintah, new-build gentrification melalui pembangunan properti baru berskala
besar, serta commercial gentrification yang ditandai oleh masuknya pelaku usaha
baru berskala internasional, termasuk dominasi pedagang sepatu dari luar daerah
dalam aktivitas perdagangan lokal. Namun, pandemi COVID-19 sejak tahun 2020
memicu kemunduran vitalitas kawasan secara masif, yang mengindikasikan
terjadinya degentrifikasi komersial. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi dan menganalisis gejala degentrifikasi komersial pascapandemi,
dengan fokus pada dampak terhadap keberlangsungan usaha lokal, perubahan
struktur ekonomi kawasan, serta strategi adaptasi pelaku usaha.
Penelitian menggunakan metode campuran, bersifat deskriptif-eksploratif, serta
menggabungkan pendekatan deduktif dan induktif. Data primer diperoleh melalui
kuesioner terhadap 55 pelaku usaha sepatu aktif di koridor Jalan Cibaduyut Raya,
didukung wawancara mendalam dan observasi lapangan. Hasil menunjukkan
bahwa rata-rata omzet usaha hanya pulih ke 39,1% dari kondisi prapandemi,
tingkat kekosongan bangunan mencapai 26,2%, harga sewa turun 22,1%, investasi
usaha baru menurun 32,1%, dan jumlah pengunjung hanya pulih ke 19,8%. Empat
indikator degentrifikasi, yaitu peningkatan kekosongan, penurunan harga sewa,
penurunan investasi, dan penurunan pengunjung, terkonfirmasi secara empiris
berdasarkan kerangka Han et al. (2021) dan Hanaoka (2007). Penelitian ini
menegaskan relevansi konsep degentrifikasi dalam konteks komersial di Global
South serta menunjukkan bahwa strategi adaptasi pelaku usaha belum mampu
membalikkan trajektori penurunan tanpa intervensi sistemik.
Perpustakaan Digital ITB