Gempa bumi merupakan salah satu bencana alam yang menyebabkan kerusakan
bangunan secara luas sehingga memerlukan asesmen cepat untuk mendukung
pengambilan keputusan pada tahap tanggap darurat. Penelitian ini bertujuan
mengembangkan framework machine learning untuk klasifikasi kerusakan
bangunan melalui integrasi informasi pragempa dan pascagempa pada beberapa
kejadian gempa di Indonesia. Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan
framework evaluasi multikejadian berbasis 31 skenario kombinasi prediktor yang
secara sistematis mengevaluasi kontribusi informasi hazard, kondisi tapak, spasial,
morfologi bangunan, tipologi bangunan, dan penginderaan jauh. Model
dikembangkan menggunakan algoritma Random Forest dan XGBoost, kemudian
dievaluasi melalui within-event validation, cross-event validation, external
validation, dan quick building damage assessment pada dataset Gempa Palu 2018,
Lombok 2018, dan Cianjur 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model
mencapai akurasi terbaik sebesar 95,25% pada within-event validation, 88,61%
pada cross-event validation, 60,71% pada external validation menggunakan data
Kajian Gempa Cianjur PusGEN, serta 58,33% pada quick building damage
assessment menggunakan data Gempa Mamuju. Kategori Pre Event secara
konsisten menghasilkan performa terbaik pada hampir seluruh tahapan evaluasi,
sedangkan informasi pascagempa berperan sebagai fitur pelengkap yang
meningkatkan performa pada kondisi tertentu. Analisis Explainable Artificial
Intelligence menunjukkan bahwa Distance to Coast, Peak Ground Acceleration
(PGA), Building Taxonomy, dan Vs30 merupakan variabel yang paling berpengaruh
terhadap klasifikasi kerusakan bangunan. Penelitian ini menunjukkan bahwa
informasi pra-gempa merupakan fondasi utama dalam membangun model yang
memiliki kemampuan generalisasi tinggi, sedangkan informasi pascagempa
berfungsi sebagai pendukung untuk meningkatkan akurasi. Framework yang
dikembangkan berpotensi mendukung implementasi asesmen cepat kerusakan
bangunan pascagempa di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB