digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Kenrick Adli
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Kinerja bangunan merupakan hal penting yang perlu disepakati dalam proses perancangan. Perbedaan sudut pandang teknis dan nonteknis antara perencana struktur dan pemilik bangunan masih menjadi kendala krusial yang sering ditemukan. Desain berbasis resiliensi yang diperkenalkan FEMA P-58 menjawab kebutuhan ini dengan menerjemahkan respons struktur menjadi variabel keputusan yang bermakna bagi pengambil keputusan. Penelitian ini membandingkan risiko dan resiliensi dua sistem rangka baja dengan faktor modifikasi respons yang sama (R = 8), yaitu Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SMF) dan Sistem Rangka Bresing Tahan Tekuk (BRBF), pada bangunan perkantoran hipotetikal lima lantai di Jakarta yang dirancang secara optimal berdasarkan SNI 1726:2019, SNI 7860:2020, dan standar lainnya. Analisis beban dorong nonlinear dilakukan untuk mengevaluasi kinerja desain, kemudian diverifikasi berdasarkan keseimbangan energi melalui analisis riwayat waktu nonlinear tiga dimensi pada OpenSees. Kajian selanjutnya dilakukan terhadap analisis risiko menggunakan FEMA P-695 dan analisis resiliensi menggunakan FEMA P-58. Analisis dinamis inkremental dilakukan pada kedua bangunan menggunakan 11 pasang gerakan tanah. Kemudian dilakukan pencocokan kurva fragilitas keruntuhan dengan ketidakpastian total untuk memperoleh probabilitas keruntuhan bersyarat, dan konvolusi terhadap kurva bahaya Jakarta untuk memperoleh laju keruntuhan tahunan. Hasilnya menunjukkan kedua sistem memenuhi target keandalan dan risiko SNI. Probabilitas keruntuhan bersyarat akibat MCER sebesar 1,06% (SMF) dan 5,18% (BRBF), keduanya di bawah batas 10% untuk kategori risiko II; sedangkan laju keruntuhan tahunan masing-masing 1,97 × 10-5 per tahun (SMF) dan 5,59 × 10-5 per tahun (BRBF), keduanya di bawah ambang 2,00 × 10-4 per tahun. Simulasi Monte Carlo pada program PACT dengan 1.000 realisasi pada delapan tingkat intensitas dilakukan untuk memperoleh berbagai aspek resiliensi: fungsi konsekuensi, estimasi kerugian tahunan (EAL), dan kurva fungsionalitas berbasis REDiTM. EAL total kedua sistem hampir setara (sekitar 0,2% hingga 0,3% nilai bangunan per tahun), tetapi komposisinya berbalik: kerugian SMF didominasi komponen nonstruktural sensitif simpangan, sedangkan kerugian BRBF didominasi penggantian akibat keruntuhan. Pada taraf gempa MCER, BRBF menghasilkan rasio kerugian lebih rendah (sekitar 24% berbanding 46%), indeks resiliensi lebih tinggi (82% berbanding 71%), dan probabilitas ketakperbaikan jauh lebih kecil akibat simpangan antar tingkat yang kecil, tetapi menanggung tambahan waktu henti akibat tenggang impor BRB. Hasil kajian menunjukkan kedua sistem struktur telah memenuhi probabilitas keruntuhan bersyarat akibat MCER dan laju keruntuhan tahunan yang ditentukan dalam SNI 1726:2019. Tingkat resiliensi struktur yang dikaji bergantung pada aspek resiliensi yang diprioritaskan: BRBF unggul pada pengendalian kerusakan, sedangkan SMF unggul pada keamanan terhadap keruntuhan. Kesimpulan ini hanya berlaku pada arketipe struktur yang dikaji dalam penelitian ini.