Pulau Sangiang di Selat Sunda merupakan pulau kecil dengan habitat bentik
perairan dangkal yang rentan terhadap gangguan lingkungan, termasuk erupsi dan
longsoran tubuh Gunung Anak Krakatau pada Desember 2018 yang memicu
tsunami Selat Sunda. Penelitian ini menganalisis kerentanan ekologis dan
perubahan habitat bentik perairan dangkal Pulau Sangiang sebelum, saat, dan
setelah erupsi, serta mengidentifikasi faktor lingkungan dominan yang
berkontribusi terhadapnya. Analisis dilakukan pada tiga periode, yaitu Agustus
2018, Januari 2019, dan Juli 2019, menggunakan data penginderaan jauh berupa
citra Sentinel-2 untuk pemetaan habitat, total padatan tersuspensi, dan klorofil-a,
citra Landsat-8 untuk suhu permukaan laut, serta data kecepatan arus dan jarak dari
pusat erupsi. Pembobotan parameter dilakukan secara objektif menggunakan
Principal Component Analysis untuk menyusun indeks kerentanan ekologis,
sedangkan faktor dominan diidentifikasi menggunakan metode Geodetector. Hasil
menunjukkan luasan terumbu karang menurun 12,8 persen dan padang lamun 30,4
persen, dengan penurunan terumbu karang terberat pada zona barat yang
menghadap langsung sumber erupsi, penurunan padang lamun terbesar pada zona
selatan, dan kondisi relatif stabil pada zona timur. Dua komponen utama pertama
menjelaskan 76,3 persen varians, dengan bobot tertinggi pada total padatan
tersuspensi sebesar 27,56 persen dan klorofil-a sebesar 25,75 persen. Nilai q
statistic tertinggi juga terdapat pada kedua parameter tersebut, yaitu 0,60 dan 0,43
terhadap terumbu karang pada kondisi sebelum erupsi, kemudian menurun tajam
setelahnya sehingga distribusi terumbu karang tidak lagi mengikuti gradien
lingkungan normal, sedangkan pada padang lamun nilai q justru meningkat pada
periode pascaerupsi. Klorofil-a diperlakukan sebagai penanda keterkaitan optik
karena diturunkan dari saluran spektral yang sama dengan pemetaan habitat,
sehingga total padatan tersuspensi menjadi penanda tekanan lingkungan yang lebih
bermakna secara fisik. Seluruh pasangan parameter bersifat saling menguatkan,
sehingga kerentanan ditentukan oleh kombinasi beberapa faktor secara sinergis,
bukan faktor tunggal, dan terkonsentrasi di zona perairan dangkal tepi pulau yang
menghadap sumber erupsi.
Perpustakaan Digital ITB