ABSTRAK Afrah Damara Yani
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan
Peramalan harga saham merupakan tantangan dalam analisis keuangan kuantitatif akibat sifat deret waktu finansial yang nonlinear, tidak stasioner, dan rentan terhadap pergeseran rezim volatilitas. Studi komparatif yang ada umumnya mengandalkan metrik
agregat yang tidak mengungkap perbedaan performa antar kondisi pasar. Penelitian ini
membandingkan Quantum Neural Network (QNN), Long Short-Term Memory (LSTM), dan Geometric Brownian Motion (GBM) dalam meramalkan harga saham PT
Aneka Tambang Tbk. (ANTAM) menggunakan kerangka evaluasi berbasis segmentasi
rezim volatilitas. Data harga penutupan harian ANTAM tahun 2020–2024 digunakan
sebagai data latih, dengan tahun 2025 dan 2026 sebagai data uji. Rezim pasar ditentukan dari volatilitas bergulir 20 hari menggunakan ambang batas persentil ke-33 dan
ke-66, menghasilkan tiga kelas: Low, Medium, dan High Volatility. Secara global,
LSTM mencapai MAPE terbaik (3,12%, R
2 = 0,9638), sementara QNN unggul di rezim Low Volatility (MAPE 1,14%) dan GBM menjadi model paling tidak bias (mean
residual +0,26 Rp). Ketiga model menunjukkan residual leptokurtik (kurtosis ekses
15,98–17,34) dengan heteroskedastisitas kondisional antar rezim. Pengujian pada data
2026 mengungkap disosiasi diagnostik: MAPE tetap stabil (3,23–3,49%) sementara R
2
kolaps ke 0,55–0,65, sebagai sinyal concept drift dan pergeseran rezim struktural. Penelitian ini menegaskan bahwa evaluasi berbasis rezim volatilitas memberikan kerangka komparatif yang lebih informatif dan landasan empiris bagi pengembangan seleksi
model adaptif berbasis kondisi pasar.
Perpustakaan Digital ITB