digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perkembangan pasar cryptocurrency dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang sangat pesat. Bitcoin masih menjadi aset digital dengan kapitalisasi pasar terbesar, yaitu lebih dari USD 1,7 triliun, serta menguasai lebih dari 57% total kapitalisasi pasar cryptocurrency. Namun, tingginya tingkat volatilitas Bitcoin yang secara historis mencapai rata-rata sekitar 80% per tahun menyebabkan pergerakan harga yang sulit diprediksi dan meningkatkan risiko dalam proses pengambilan keputusan investasi. Untuk mengatasi tantangan tersebut, studi ini mengembangkan model Long Short Term Memory (LSTM) guna memprediksi harga penutupan Bitcoin pada hari berikutnya dalam timeframe harian. Model dibangun dengan memanfaatkan kombinasi indikator teknikal dan variabel makroekonomi yang diperoleh secara terintegrasi melalui TradingView Premium. Kajian terhadap penelitian terdahulu menunjukkan adanya beberapa celah penelitian yang masih perlu dieksplorasi. Pertama, sebagian besar model prediksi harga berbasis machine learning belum disertai mekanisme deployment yang mudah digunakan oleh pelaku pasar. Kedua, pemanfaatan faktor makroekonomi dalam pemodelan harga cryptocurrency masih relatif terbatas. Ketiga, dokumentasi proses pengembangan model yang memanfaatkan bantuan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) belum banyak dibahas dalam literatur. Keempat, perbandingan kinerja model terhadap berbagai metode benchmark sering kali dilakukan secara terbatas sehingga menyulitkan evaluasi yang komprehensif. Seluruh variabel penelitian diperoleh dari satu platform yang sama, yaitu TradingView Premium, guna menjaga konsistensi sumber data. Variabel yang digunakan mencakup data Open, High, Low, Close, dan Volume (OHLCV) Bitcoin, sejumlah indikator teknikal seperti Relative Strength Index (RSI), Moving Average Convergence Divergence (MACD), Bollinger Bands, dan Average Directional Index (ADX), serta indikator makroekonomi yang meliputi imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (U.S. Treasury Yield), U.S. Dollar Index (DXY), indeks S&P 500, Nasdaq-100, dan Volatility Index (VIX). Data historis yang digunakan mencakup periode tahun 2017 hingga 2025. Data tersebut dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu data pelatihan untuk periode 2017 2023, data validasi tahun 2024, dan data pengujian tahun 2025. Model LSTM dirancang menggunakan tiga lapisan tersembunyi dengan 128, 64, dan 32 unit, serta dilengkapi mekanisme dropout untuk mengurangi risiko overfitting. Selain itu, jendela pengamatan (lookback window) selama 60 hari diterapkan agar model mampu menangkap pola pergerakan harga dalam berbagai horizon waktu. Kinerja model dievaluasi melalui perbandingan dengan beberapa metode yang umum digunakan, yaitu ARIMA, TradingView Technical Ratings, dan strategi Simple Moving Average Crossover. Pengukuran dilakukan menggunakan Mean Absolute Error (MAE), Root Mean Square Error (RMSE), Mean Absolute Percentage Error (MAPE), serta tingkat ketepatan dalam memprediksi arah pergerakan harga (directional accuracy). Sebagai luaran praktis, hasil penelitian diimplementasikan dalam bentuk indikator Pine Script yang dapat digunakan langsung pada platform TradingView. Implementasi tersebut memungkinkan pengguna untuk memperoleh hasil prediksi berbasis machine learning tanpa perlu membangun model secara mandiri. Dari sisi akademis, studi ini memberikan kontribusi melalui penggabungan indikator teknikal dan faktor makroekonomi dalam pemodelan harga Bitcoin. Dari sisi praktis, penelitian ini menawarkan pendekatan yang lebih mudah diakses oleh trader maupun investor ritel yang ingin memanfaatkan teknologi machine learning dalam proses pengambilan keputusan investasi.