Pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) syariah merupakan salah satu alternatif pembiayaan yang menerapkan prinsip syariah melalui mekanisme jual beli maupun bagi hasil. Penelitian ini bertujuan membangun model pembiayaan KPR syariah menggunakan akad Murabahah dan Musyarakah Mutanaqisah (MMQ) dengan pendekatan nisbah kesepakatan, menentukan nisbah optimal, serta membandingkan kinerjanya dengan KPR konvensional.
Penelitian dilakukan melalui pemodelan matematika dan simulasi numerik. Penghasilan bulanan nasabah dimodelkan menggunakan Geometric Brownian Motion (GBM), sedangkan prediksi imbal hasil obligasi Indonesia dilakukan menggunakan model Vasicek sebagai acuan keuntungan Bank Syariah. Penentuan nisbah kesepakatan dilakukan menggunakan optimasi multiobjektif Pareto dengan dua fungsi objektif, yaitu memaksimumkan imbal hasil Bank Syariah dan keuntungan nasabah. Selanjutnya, seluruh solusi Pareto disetarakan menggunakan pendekatan Holding Period Return (HPR) agar dapat dibandingkan pada periode pembiayaan yang sama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Murabahah menghasilkan imbal hasil Bank Syariah sebesar 4,70% dan imbal hasil nasabah sebesar 34,09%. Sementara itu, model MMQ menghasilkan nisbah kesepakatan optimal sebesar 48,10% dengan imbal hasil Bank Syariah sebesar 10,11% dan imbal hasil nasabah sebesar 48,48%. Optimasi menghasilkan 19 solusi Pareto optimal dengan periode pembiayaan antara 180–382 bulan. Setelah dilakukan transformasi menggunakan holding period return, seluruh solusi dapat dibandingkan secara objektif dan menunjukkan bahwa nisbah 48,10% tetap menjadi solusi yang memberikan keseimbangan terbaik antara keuntungan Bank Syariah dan nasabah. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa peningkatan tingkat pertumbuhan pendapatan (?) cenderung meningkatkan imbal hasil Bank Syariah dan nasabah, sedangkan peningkatan volatilitas pendapatan (?) menyebabkan penyebaran imbal hasil semakin besar, meningkatkan ketidakpastian pembiayaan, dan menurunkan imbal hasil yang diterima kedua belah pihak.
Perpustakaan Digital ITB