digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, merupakan salah satu wilayah yang mengalami penurunan muka tanah dengan laju lebih dari 17 cm/tahun sehingga meningkatkan risiko banjir melalui pembentukan cekungan lokal yang memperbesar kedalaman, durasi, dan luas genangan. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kerusakan pada bangunan, infrastruktur, serta aktivitas ekonomi masyarakat. Penelitian ini bertujuan mengestimasi kerugian ekonomi akibat banjir yang dipengaruhi oleh penurunan muka tanah serta menganalisis kontribusi penurunan tanah terhadap peningkatan kerugian banjir di Kecamatan Gedebage. Analisis dilakukan melalui pemodelan banjir pada dua skenario, yaitu banjir yang diperparah oleh penurunan tanah dan banjir yang hanya disebabkan oleh penurunan tanah. Estimasi kerugian dihitung menggunakan pendekatan depth-damage curve yang dikombinasikan dengan data bangunan, penggunaan lahan, dan analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada skenario banjir akibat penurunan tanah, total kerugian ekonomi meningkat dari Rp51,88 miliar pada tahun 2025 menjadi Rp140,58 miliar pada tahun 2050. Sektor permukiman menjadi penyumbang kerugian terbesar, diikuti oleh sektor jalan dan industri. Perbandingan kedua skenario menunjukkan bahwa kontribusi penurunan muka tanah terhadap total kerugian banjir meningkat dari 10,10% pada tahun 2025 menjadi 26,05% pada tahun 2050, yang mengindikasikan bahwa penurunan tanah semakin berperan dalam memperburuk dampak banjir di masa mendatang. Wilayah prioritas mitigasi berada di bagian selatan Gedebage, terutama Kelurahan Rancabolang, Rancanumpang, dan sebagian Cimincrang yang mengalami peningkatan luas dan kedalaman genangan. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan penerapan mitigasi terpadu melalui pengendalian pemanfaatan air tanah, pengendalian tata ruang berbasis risiko, serta penguatan sistem monitoring penurunan tanah dan banjir. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan model banjir yang mempertimbangkan infrastruktur pengendali banjir yang telah dibangun, data bangunan terkini, serta komponen kerugian ekonomi yang lebih komprehensif.