digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Amadea Martha Wijaya
Terbatas  Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan

Tugas akhir ini mengangkat topik Active Living dan healing environment dalam arsitektur melalui perancangan Long-Term Care Facility (LTCF) bagi lansia yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 (Good Health and Well-Being), poin 11 (Sustainable Cities and Communities), dan poin 13 (Climate Action) yang menekankan pentingnya penyediaan lingkungan hidup yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan bagi masyarakat lanjut usia. Permasalahan yang melatarbelakangi perancangan ini adalah meningkatnya jumlah penduduk lansia di Indonesia yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan angka usia produktifnya, banyak dari penduduk lansia ini yang kemudian tinggal tanpa pendamping yang mampu membantu aktivitas sehari-hari, sementara fasilitas hunian dan perawatan jangka panjang yang mampu mengakomodasi kebutuhan fisik, psikologis, medis, dan sosial lansia masih terbatas. Tetapi tentunya banyak kendala dalam perancangan fasilitas ini seperti, lansia yang berpindah dari rumah dan lingkungan komunitas yang telah lama mereka tempati sering kali mengalami penurunan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap lingkungan baru sehingga muncul perasaan ‘terasing’ dan berkurangnya kenyamanan psikologis. Kondisi ini semakin diperkuat oleh fenomena pergeseran pola hunian, di mana generasi muda cenderung meninggalkan kawasan perumahan horizontal dan berpindah ke hunian vertikal, menyebabkan berkurangnya interaksi sosial yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari lansia. Di sisi lain, lingkungan fasilitas perawatan yang bersifat institusional dan memiliki tata ruang kompleks sering kali menyulitkan lansia dalam memahami orientasi ruang dan bernavigasi secara mandiri. Keterbatasan akses terhadap ruang terbuka dan elemen alam juga mengurangi kesempatan lansia untuk berinteraksi dengan lingkungan natural yang berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik maupun psikologis mereka. Sebagai respons terhadap permasalahan tersebut, perancangan menerapkan konsep Sense of Belonging, Spatial Orientation, dan Connection to Nature sebagai landasan utama pembentukan healing environment. Konsep Sense of Belonging diwujudkan melalui lingkungan hunian yang menyerupai suasana rumah dan perumahan dengan penyediaan ruang komunal, teras, dan area interaksi yang mendukung hubungan sosial serta kenyamanan emosional lansia. Konsep Spatial Orientation diterapkan melalui pengaturan zonasi, sirkulasi, dan sistem wayfinding yang jelas sehingga memudahkan penghuni memahami lingkungan dan beraktivitas secara mandiri. Sementara itu, konsep Connection to Nature diwujudkan melalui pendekatan biofilik yang menghadirkan vegetasi, pencahayaan dan ventilasi alami, elemen air, material alami, serta hubungan visual yang kuat dengan ruang terbuka hijau. Ketiga konsep tersebut didukung oleh pendekatan Active Living bagi lansia rentan dan Therapeutic Design bagi lansia rawat untuk mendukung aktivitas, pemulihan, dan perawatan secara optimal. Perancangan dilakukan melalui studi literatur, observasi lapangan, dan analisis komparatif guna menghasilkan rancangan konseptual Long-Term Care Facility yang mampu meningkatkan kualitas hidup lansia melalui lingkungan yang mendukung kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, interaksi sosial, dan kedekatan dengan alam.