digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Mobilitas menjadi aspek penting dalam menjaga kualitas hidup lansia, khususnya di wilayah perkotaan. Namun, keterbatasan fisik dan ekonomi menghambat aksesibilitas mereka terhadap layanan transportasi. Layanan mobilitas berbasis aplikasi berupa Transportation Super Apps (TSA) menawarkan solusi mobilitas yang fleksibel dan mandiri bagi lansia, tetapi adopsinya masih terbatas karena keterbatasan fisik, hambatan teknologi, serta kekhawatiran terhadap layanan itu sendiri, baik dari aspek keamanan, keselamatan, manfaat, dan kemudahan. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi penggunaan layanan dalam Transportation Super Apps (TSA) oleh lansia di DKI Jakarta serta variabel-variabel yang memengaruhinya. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif, dengan penyebaran kuesioner kepada 408 responden lansia menggunakan teknik gabungan dari revealed preference dan stated preference. Data mencakup karakteristik sosiodemografi, kondisi kesehatan, respon teknologi, persepsi keamanan dan keselamatan terhadap layanan ride-hailing, serta persepsi manfaat dan kemudahan terhadap layanan pesan antar makanan dan kurir. Analisis dilakukan melalui statistik deskriptif, principal component analysis (PCA), dan pemodelan pilihan diskrit (multinomial logit dan nested logit). Hasil menunjukkan bahwa dominan dari responden tergolong sebagai pengguna non-aktif layanan ride-hailing dengan pemesanan dilakukan oleh orang lain, serta bukan pengguna ilayanan pesan antar makanan dan kurir tetapi pernah mengunduh aplikasi. Pola adopsi layanan dipengaruhi oleh usia lansia, dimana lansia muda masih memiliki kemandirian digital sehingga berada di kategori pengguna non-aktif, sedangkan lansia tua cenderung tidak menggunakan layanan dalam TSA. Keberadaan anggota keluarga (terutama anak-anak) dan pengasuh bertindak sebagai mediator penggunaan teknologi yang mengubah status penggunaan dari pemesanan mandiri menjadi dibantu oleh orang lain. Lansia dengan pekerjaan menuntut perjalanan dan mobilitas tinggi, mendorong penggunaan layanan ride-hailing, tetapi cenderung tidak menggunakan layanan kurir. Keterbatasan akses karena lokasi kerja jauh dan pendapatan rendah menurunkan penggunaan layanan ride-hailing. Learning curve untuk layanan ride-hailing lebih rendah dibandingkan layanan kurir, lebih mudah bagi lansia untuk beradaptasi. Keamanan dan keselamatan menjadi syarat mutlak penggunaan layanan ride-hailing. Kemudahan adopsi aplikasi serta efisiensi menjadi faktor yang penting untuk meningkatkan penggunaan layanan TSA. Penelitian ini memperkaya literatur transportasi inklusif di Indonesia, menekankan pentingnya desain dan kebijakan aplikasi TSA yang mempertimbangkan keterbatasan kelompok rentan seperti lansia.