Mobilitas menjadi aspek penting dalam menjaga kualitas hidup lansia, khususnya
di wilayah perkotaan. Namun, keterbatasan fisik dan ekonomi menghambat
aksesibilitas mereka terhadap layanan transportasi. Layanan mobilitas berbasis
aplikasi berupa Transportation Super Apps (TSA) menawarkan solusi mobilitas
yang fleksibel dan mandiri bagi lansia, tetapi adopsinya masih terbatas karena
keterbatasan fisik, hambatan teknologi, serta kekhawatiran terhadap layanan itu
sendiri, baik dari aspek keamanan, keselamatan, manfaat, dan kemudahan.
Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi penggunaan layanan dalam
Transportation Super Apps (TSA) oleh lansia di DKI Jakarta serta
variabel-variabel yang memengaruhinya. Pendekatan yang digunakan adalah
kuantitatif, dengan penyebaran kuesioner kepada 408 responden lansia
menggunakan teknik gabungan dari revealed preference dan stated preference.
Data mencakup karakteristik sosiodemografi, kondisi kesehatan, respon teknologi,
persepsi keamanan dan keselamatan terhadap layanan ride-hailing, serta persepsi
manfaat dan kemudahan terhadap layanan pesan antar makanan dan kurir. Analisis
dilakukan melalui statistik deskriptif, principal component analysis (PCA), dan
pemodelan pilihan diskrit (multinomial logit dan nested logit). Hasil menunjukkan
bahwa dominan dari responden tergolong sebagai pengguna non-aktif layanan
ride-hailing dengan pemesanan dilakukan oleh orang lain, serta bukan pengguna
ilayanan pesan antar makanan dan kurir tetapi pernah mengunduh aplikasi. Pola
adopsi layanan dipengaruhi oleh usia lansia, dimana lansia muda masih memiliki
kemandirian digital sehingga berada di kategori pengguna non-aktif, sedangkan
lansia tua cenderung tidak menggunakan layanan dalam TSA. Keberadaan
anggota keluarga (terutama anak-anak) dan pengasuh bertindak sebagai mediator
penggunaan teknologi yang mengubah status penggunaan dari pemesanan mandiri
menjadi dibantu oleh orang lain. Lansia dengan pekerjaan menuntut perjalanan
dan mobilitas tinggi, mendorong penggunaan layanan ride-hailing, tetapi
cenderung tidak menggunakan layanan kurir. Keterbatasan akses karena lokasi
kerja jauh dan pendapatan rendah menurunkan penggunaan layanan ride-hailing.
Learning curve untuk layanan ride-hailing lebih rendah dibandingkan layanan
kurir, lebih mudah bagi lansia untuk beradaptasi. Keamanan dan keselamatan
menjadi syarat mutlak penggunaan layanan ride-hailing. Kemudahan adopsi
aplikasi serta efisiensi menjadi faktor yang penting untuk meningkatkan
penggunaan layanan TSA. Penelitian ini memperkaya literatur transportasi
inklusif di Indonesia, menekankan pentingnya desain dan kebijakan aplikasi TSA
yang mempertimbangkan keterbatasan kelompok rentan seperti lansia.
Perpustakaan Digital ITB