Ride-hailing telah menjadi salah satu cara bepergian yang umum digunakan di banyak kota.
Layanan ini memungkinkan perjalanan dimulai dari berbagai lokasi yang pada awalnya
tidak dirancang sebagai titik penjemputan transportasi. Namun, fleksibilitas ini
berlangsung di dalam ruang perkotaan yang umumnya dirancang berdasarkan asumsi
mobilitas yang stabil, teratur, dan didukung oleh infrastruktur yang tetap. Perbedaan antara
logika platform digital yang mengutamakan fleksibilitas dan koordinasi yang dinamis
dengan kondisi spasial perkotaan serta regulasi yang relatif tetap menimbulkan berbagai
ketegangan dalam praktik mobilitas sehari-hari. Ketegangan tersebut tampak jelas pada
tahap penjemputan, yaitu saat pengemudi dan penumpang berupaya mencapai pertemuan.
Praktik penjemputan merupakan proses yang kompleks karena melibatkan berbagai bentuk
negosiasi dan penyesuaian yang melibatkan teknologi digital, regulasi, infrastruktur kota,
dan objek-objek material di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana
mobilitas yang dimediasi platform diproduksi dan distabilkan sebagai capaian sosiomaterial melalui asosiasi antara manusia, teknologi digital, material perkotaan,
infrastruktur, dan regulasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain
studi kasus eksplanatori untuk mengeksplorasi bagaimana mobilitas ride-hailing
diproduksi. Analisis dilakukan dengan mengintegrasikan kerangka Staging Mobilities dan
Material Semiotics untuk memahami bagaimana mobilitas terbentuk melalui hubunganii
antara pengguna, pengemudi, platform digital, infrastruktur, regulasi, kendaraan, serta
berbagai elemen material lainnya. Data empiris diperoleh melalui observasi di lokasi
penjemputan, wawancara dengan pengguna dan pengemudi ride-hailing, perjalanan
bersama pengemudi, dokumentasi digital dari aplikasi, serta dokumen regulasi. Analisis
data dilakukan secara iteratif dan relasional dengan menggabungkan Staging Mobilities,
dan Material Semiotics untuk menelusuri bagaimana praktik mobilitas terbentuk melalui
interaksi antara aktor manusia dan nonmanusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
regulasi transportasi dan tata ruang tidak secara langsung mengatur praktik penjemputan
melalui penyediaan ruang khusus atau prosedur operasional yang terintegrasi dengan
platform. Aktivitas penjemputan berlangsung di ruang-ruang yang telah lebih dahulu diatur
oleh aturan lalu lintas, pembatasan akses, dan berbagai penggunaan ruang publik yang
sudah ada. Penelitian ini juga menemukan bahwa titik penjemputan tidak sepenuhnya
ditentukan oleh lokasi yang ditampilkan dalam aplikasi. Untuk mencapai titik pertemuan,
pengemudi dan penumpang sering menggunakan panggilan telepon, pesan singkat,
pencarian visual, perpindahan posisi, serta berbagai penanda ruang seperti gerbang, lobi,
minimarket, dan objek lain yang mudah dikenali. Ketidaksesuaian antara instruksi
platform, kondisi ruang, dan regulasi merupakan situasi yang umum dijumpai dalam
praktik penjemputan. Ketidaksesuaian tersebut diatasi melalui penerjemahan instruksi
digital ke dalam referensi spasial yang dapat dikenali bersama, seperti gerbang, lobi
bangunan, minimarket, persimpangan jalan, atau objek lain yang terdapat di sekitar lokasi.
Informasi yang muncul pada layar aplikasi sering kali disesuaikan kembali ketika
pengemudi dan penumpang berhadapan dengan kondisi lalu lintas, hambatan akses, tata
letak bangunan, maupun kondisi setempat lainnya. Oleh karena itu, mobilitas yang
dimediasi platform tidak dapat dipahami semata-mata sebagai hasil kerja teknologi digital,
melainkan sebagai capaian yang muncul melalui keterhubungan sementara antara manusia,
teknologi, infrastruktur, regulasi, kendaraan, dan berbagai objek material yang terlibat
dalam prosesnya. Praktik penjemputan merupakan proses merangkai hubungan-hubungan
tersebut agar perjalanan dapat berlangsung. Karena berlangsung dalam kondisi yang terus
berubah, stabilitas mobilitas dicapai melalui penyesuaian dan negosiasi yang berulang.
Penelitian ini mengusulkan teori Extended Staging Mobilities (ESM), yang memperluas
Staging Mobilities dengan mengintegrasikan Material Semiotics untuk menjelaskan
produksi mobilitas melalui asosiasi manusia-nonmanusia. Penelitian ini juga memperkaya
teori mobilitas dan teori perencanaan dengan menunjukkan bahwa mobilitas merupakan
hasil dari perakitan hubungan-hubungan heterogen yang bersifat sementara dan terus
diupayakan untuk distabilkan.
Perpustakaan Digital ITB