digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Ride-hailing telah menjadi salah satu cara bepergian yang umum digunakan di banyak kota. Layanan ini memungkinkan perjalanan dimulai dari berbagai lokasi yang pada awalnya tidak dirancang sebagai titik penjemputan transportasi. Namun, fleksibilitas ini berlangsung di dalam ruang perkotaan yang umumnya dirancang berdasarkan asumsi mobilitas yang stabil, teratur, dan didukung oleh infrastruktur yang tetap. Perbedaan antara logika platform digital yang mengutamakan fleksibilitas dan koordinasi yang dinamis dengan kondisi spasial perkotaan serta regulasi yang relatif tetap menimbulkan berbagai ketegangan dalam praktik mobilitas sehari-hari. Ketegangan tersebut tampak jelas pada tahap penjemputan, yaitu saat pengemudi dan penumpang berupaya mencapai pertemuan. Praktik penjemputan merupakan proses yang kompleks karena melibatkan berbagai bentuk negosiasi dan penyesuaian yang melibatkan teknologi digital, regulasi, infrastruktur kota, dan objek-objek material di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan menjelaskan bagaimana mobilitas yang dimediasi platform diproduksi dan distabilkan sebagai capaian sosiomaterial melalui asosiasi antara manusia, teknologi digital, material perkotaan, infrastruktur, dan regulasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus eksplanatori untuk mengeksplorasi bagaimana mobilitas ride-hailing diproduksi. Analisis dilakukan dengan mengintegrasikan kerangka Staging Mobilities dan Material Semiotics untuk memahami bagaimana mobilitas terbentuk melalui hubunganii antara pengguna, pengemudi, platform digital, infrastruktur, regulasi, kendaraan, serta berbagai elemen material lainnya. Data empiris diperoleh melalui observasi di lokasi penjemputan, wawancara dengan pengguna dan pengemudi ride-hailing, perjalanan bersama pengemudi, dokumentasi digital dari aplikasi, serta dokumen regulasi. Analisis data dilakukan secara iteratif dan relasional dengan menggabungkan Staging Mobilities, dan Material Semiotics untuk menelusuri bagaimana praktik mobilitas terbentuk melalui interaksi antara aktor manusia dan nonmanusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi transportasi dan tata ruang tidak secara langsung mengatur praktik penjemputan melalui penyediaan ruang khusus atau prosedur operasional yang terintegrasi dengan platform. Aktivitas penjemputan berlangsung di ruang-ruang yang telah lebih dahulu diatur oleh aturan lalu lintas, pembatasan akses, dan berbagai penggunaan ruang publik yang sudah ada. Penelitian ini juga menemukan bahwa titik penjemputan tidak sepenuhnya ditentukan oleh lokasi yang ditampilkan dalam aplikasi. Untuk mencapai titik pertemuan, pengemudi dan penumpang sering menggunakan panggilan telepon, pesan singkat, pencarian visual, perpindahan posisi, serta berbagai penanda ruang seperti gerbang, lobi, minimarket, dan objek lain yang mudah dikenali. Ketidaksesuaian antara instruksi platform, kondisi ruang, dan regulasi merupakan situasi yang umum dijumpai dalam praktik penjemputan. Ketidaksesuaian tersebut diatasi melalui penerjemahan instruksi digital ke dalam referensi spasial yang dapat dikenali bersama, seperti gerbang, lobi bangunan, minimarket, persimpangan jalan, atau objek lain yang terdapat di sekitar lokasi. Informasi yang muncul pada layar aplikasi sering kali disesuaikan kembali ketika pengemudi dan penumpang berhadapan dengan kondisi lalu lintas, hambatan akses, tata letak bangunan, maupun kondisi setempat lainnya. Oleh karena itu, mobilitas yang dimediasi platform tidak dapat dipahami semata-mata sebagai hasil kerja teknologi digital, melainkan sebagai capaian yang muncul melalui keterhubungan sementara antara manusia, teknologi, infrastruktur, regulasi, kendaraan, dan berbagai objek material yang terlibat dalam prosesnya. Praktik penjemputan merupakan proses merangkai hubungan-hubungan tersebut agar perjalanan dapat berlangsung. Karena berlangsung dalam kondisi yang terus berubah, stabilitas mobilitas dicapai melalui penyesuaian dan negosiasi yang berulang. Penelitian ini mengusulkan teori Extended Staging Mobilities (ESM), yang memperluas Staging Mobilities dengan mengintegrasikan Material Semiotics untuk menjelaskan produksi mobilitas melalui asosiasi manusia-nonmanusia. Penelitian ini juga memperkaya teori mobilitas dan teori perencanaan dengan menunjukkan bahwa mobilitas merupakan hasil dari perakitan hubungan-hubungan heterogen yang bersifat sementara dan terus diupayakan untuk distabilkan.