digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Studi ini menggambarkan masalah berulang dalam tata kelola industri ekstraktif, yaitu, keberadaan otoritas operasional formal dan sumber daya CSR tidak selalu berarti adanya legitimasi sosial ketika aktivitas industri memengaruhi mata pencaharian lokal. Metode studi kasus kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk meneliti 12 wawancara semi-terstruktur menggunakan pengkodean tematik, pemetaan BATNA / ZOPA, analisis PESTEL, diagnosis SWOT, dan perumusan strategi TOWS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kompensasi adalah tema dominan dalam diskursus konflik, hal ini memiliki tujuan yang jauh lebih luas daripada sekadar kompensasi finansial. Ini dapat dipandang sebagai agregasi dari berbagai ketidakpastian mata pencaharian, ambiguitas akses, harapan pengakuan, keadilan prosedural, dan harapan penyelesaian. Analisis terkait BATNA / ZOPA menunjukkan bahwa ada zona kompensasi yang dapat dilihat (yaitu, ruang yang dapat diidentifikasi), namun, ruang untuk penyelesaian integratif sangat terbatas. Dengan demikian, proses mediasi telah menciptakan sebuah permukaan untuk tawar-menawar, namun, belum menciptakan ruang kesepakatan yang stabil atau tahan lama. Selain itu, analisis PESTEL menunjukkan bahwa konflik ini terutama dipicu oleh faktor politik, ekonomi, dan sosial; oleh karena itu, meskipun penjelasan teknis/hukum/keamanan/lingkungan mungkin memberikan beberapa wawasan tentang isu yang ditangani, pada akhirnya akan terbukti tidak cukup. Pada akhirnya, sintesis SWOT-TOWS menunjukkan bahwa ENX memiliki kapabilitas tetapi kurang struktur, yaitu, ENX memiliki akses mediasi, kapabilitas CSR, sumber daya yang tersedia dalam organisasi, pengetahuan operasional; namun, semuanya belum cukup terintegrasi ke dalam suatu sistem untuk menyelesaikan sengketa. Oleh karena itu, studi ini mengusulkan Arsitektur CSR Negosiasi Terpadu yang terdiri dari penemuan fakta bersama, logika kompensasi yang transparan, jaminan mata pencaharian, protokol tertulis mengenai akses dan keselamatan, serta mekanisme keluhan/pemantauan. Secara keseluruhan, studi ini memberikan kerangka kerja strategis kualitatif untuk mengubah diagnosis konflik pemangku kepentingan menjadi strategi penyelesaian yang sah dan bisa dipantau.