Saluran drainase terbuka di kawasan pinggiran kota Jakarta Selatan mengalami
penumpukan sampah padat secara kronis akibat tidak adanya mekanisme
pencegatan fisik antara rumah tangga dan saluran utama. Di Jagakarsa, Ciganjur,
dan Pondok Labu, saluran dengan lebar 30 hingga 50 sentimeter rutin tersumbat
oleh sampah plastik mengambang seperti kemasan makanan, bungkus, dan gelas
sekali pakai. Pemeliharaan jarang dilakukan dan bersifat reaktif karena kondisi
fisik gang yang sempit, bau yang kuat, dan ketidakjelasan tanggung jawab
membuat interaksi dengan saluran terlalu berat untuk dilakukan secara konsisten.
Penelitian ini menggunakan pendekatan riset desain kualitatif, mengumpulkan data
melalui observasi etnografis, wawancara mendalam dengan lima informan warga,
dan dokumentasi lapangan. Temuan lebih mengarah pada tidak adanya sistem
pencegatan dan pengangkatan sampah yang sederhana dan mudah dilakukan,
dibandingkan kurangnya kesadaran, sebagai penyebab kegagalan pemeliharaan.
Tiga alternatif desain produk dikembangkan dan dievaluasi melalui pengujian fisik
skala kecil. Arah desain akhir yang dipilih adalah Fan Mesh Drain Interceptor —
jaring berbentuk kipas yang fleksibel, digantung dari batang teleskopik yang dapat
disesuaikan dengan lebar saluran. Sampah mengambang ditangkap secara pasif
seiring aliran air, dan mekanisme penutup berbasis tali memungkinkan satu orang
warga untuk mengangkat dan membuang sampah yang terkumpul dalam satu
gerakan tanpa kontak langsung. Pengujian mengonfirmasi bahwa alternatif ini
menunjukkan performa terkuat dalam kriteria penangkapan sampah, hambatan
aliran, kestabilan, dan kemudahan interaksi pemeliharaan.
Perpustakaan Digital ITB