digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Saluran drainase terbuka di kawasan pinggiran kota Jakarta Selatan mengalami penumpukan sampah padat secara kronis akibat tidak adanya mekanisme pencegatan fisik antara rumah tangga dan saluran utama. Di Jagakarsa, Ciganjur, dan Pondok Labu, saluran dengan lebar 30 hingga 50 sentimeter rutin tersumbat oleh sampah plastik mengambang seperti kemasan makanan, bungkus, dan gelas sekali pakai. Pemeliharaan jarang dilakukan dan bersifat reaktif karena kondisi fisik gang yang sempit, bau yang kuat, dan ketidakjelasan tanggung jawab membuat interaksi dengan saluran terlalu berat untuk dilakukan secara konsisten. Penelitian ini menggunakan pendekatan riset desain kualitatif, mengumpulkan data melalui observasi etnografis, wawancara mendalam dengan lima informan warga, dan dokumentasi lapangan. Temuan lebih mengarah pada tidak adanya sistem pencegatan dan pengangkatan sampah yang sederhana dan mudah dilakukan, dibandingkan kurangnya kesadaran, sebagai penyebab kegagalan pemeliharaan. Tiga alternatif desain produk dikembangkan dan dievaluasi melalui pengujian fisik skala kecil. Arah desain akhir yang dipilih adalah Fan Mesh Drain Interceptor — jaring berbentuk kipas yang fleksibel, digantung dari batang teleskopik yang dapat disesuaikan dengan lebar saluran. Sampah mengambang ditangkap secara pasif seiring aliran air, dan mekanisme penutup berbasis tali memungkinkan satu orang warga untuk mengangkat dan membuang sampah yang terkumpul dalam satu gerakan tanpa kontak langsung. Pengujian mengonfirmasi bahwa alternatif ini menunjukkan performa terkuat dalam kriteria penangkapan sampah, hambatan aliran, kestabilan, dan kemudahan interaksi pemeliharaan.